Peng engkau an

Ketika mengetikkan kata ‘pengengkauan’ dan ‘mengengkaukan’ di mesin pencari Google, hanya beberapa situs saja yang bisa ditelususi menggunakan kata dimaksud. Untuk pengengkauan, malah hanya tertulis bahwa pernah ditulis di situs masliliks.wordpress.com – alias saya sendiri yang nulis.
Maksud yang hendak saya dapat dari kata pengengkauan adalah padanan untuk ‘othering’, sebuah konsep yang sering bersanding dengan ‘essentialism’. Konsep ‘othering’ yang  erat berkaitan dengan study post-colonialism.
Mari melompat dulu. Ketiadaan kata ‘pengengkauan’ di bahasa Indonesia sebenarnya melegakan, karena bisa jadi bahasa Indonesia (atau Melayu) tidak memiliki konsep ‘othering’. Dengan demikian, ketiadaan konsep ‘othering’ memungkinkan manusia yang mendiami Nusantara untuk menerima, menelaah, menolak, melaksanakan, mengubah, menyerap segala macam tatanan, tontonan, tuntunan dari berbagai penjuru dunia.

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

Membuat USB Installer OS X Yosemite

Seusai mengunduh OS X 10.10 Yosemite melalui App Store, saya takut akan kehilangan dirimu installer berukuran sekitar 5,6GB tersebut – mengingat tidak setiap saat di Indonesia ini bisa mengunduh file berukuran 5GB secara mantap. Maka, saya membuat backup installer dengan beberapa  langkah mudah. Cara ini konon hanya bisa dilakukan di OS X 10.7 – OS X 10.9. Saya sediakan terlebih dahulu sebuah USB Flash Drive berukuran 8GB, kemudian  sebagai berikut:

1. Memasang UFD ke Mac tempat mengunduh OS X 10.10 dan melalui Finder, saya ubah nama UFD menjadi 10 (bisa sembarang sih sebenarnya). Catatan : semua isi dalam UFD bernama 10 akan dihapus.

2. Membuka Terminal, kemudian pada saat tanda $ sudah aktif, saya cukup menyalin dan meletakkan perintah berikut dilanjutkan dengan menekan tombol Enter

$sudo /Applications/Install\ OS\ X\ Yosemite.app/Contents/Resources/createinstallmedia –volume /Volumes/10 –applicationpath /Applications/Install\ OS\ X\ Yosemite.app –nointeraction

3. Masukkan password administrator jika diminta. Jika tidak diminta, seharusnya segera buat user administrator yang berpassword :D

4. Akan muncul keterangan: Erasing Disk: 0%… 10 percent…20 percent… dst. Lalu copying the installer files, making the disk bootable, and copying boot files.

5. Tunggu sampai ada kalimat:  Copy Complete. Done.

proses persalinan

proses persalinan

6. Seharusnya, di desktop akan muncul icon UFD dengan nama Install OS X Yosemite.

hasil

Demikian  cara yang saya gunakan dengan mencontoh mentah-mentah artikel di http://www.macworld.com/article/2367748/how-to-make-a-bootable-os-x-10-10-yosemite-install-drive.html. Perlu di ingat, saya tidak bertanggungjawab atas apapun yang akan terjadi di mac anda jika anda menggunakan cara-cara yang tidak bertanggungjawab seperti yang tertera pada artikel ini. Adalah kewajiban anda secara personal untuk menjaga dan mempertahankan segala data yang berada dalam genggaman anda.

Posted in otjehan sagala matjem, tricks | Tagged | Leave a comment

Welcome aboard, Mr. President

Terima kasih, Pak Presiden

Terima kasih Pak Presiden SBY

Thank you Pak  SBY

Selamat bertugas, Pak Presiden

Welcome aboard, Mr. President

Welcome aboard, Mr. President

source

source

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , | Leave a comment

6×4 dan Pemilihan Kepala Daerah

Ada dua topik yang sedang mencuat seminggu  menjelang Idul Adha 1435 H atau bertepatan dengan Minggu ketiga September 2014 M. Pengesahan Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah menjadi hadiah terindah untuk bangsa Indonesia pada  Jumat dinihari tanggal 26 September 2014, setelah beberapa hari sebelumnya bangsa Indonesia disibukkan dengan soal perkalian untuk anak yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar – yaitu perkalian 6×4.

6x4 atau 4x6

sumber : https://www.facebook.com/muflihagusahmadigemolong?fref=ufi

Perbedaan antara pemilihan kepala daerah secara langsung maupun tidak langsung, memiliki kesamaan dengan kasus soal matematika 6×4 tersebut. Ini adalah masalah Logis dan Rasional.

Secara logika, 4×6 = 4+4+4+4+4+4. Bilangan empat ada enam buah, yang ketika dijumlahkan maka hasilnya sama dengan enam belas dua puluh empat. Jika ada enam buah piring yang masing-masing berisi empat buah jeruk maka jumlah seluruh jeruk ada dua puluh empat. 6×4 = 6+6+6+6. Jika ada empat piring berisi jeruk masing-masing enam buah, maka kita akan mengatakan bahwa ada dua puluh empat buah jeruk. Jumlah total jeruk dalam piring jadi tidak bermakna ketika tidak disodorkan dalam konteks sajian terhadap tamu.

Sebagaimana anda lihat pada foto yang dibikin oleh rekan saya di ngGemolong ini, seorang Gubernur dipilih oleh DPRD itu sama saja jumlahnya dengan Gubernur yang dipilih oleh rakyat secara langsung. Logis.

Namun sebagaimana foto 4×6 ketika dicetak ukuran 6×4 akan jadi ndoyong, irrasional, begitu pula ketika ada 42 Rancangan Undang-undang yang menunggu untuk disahkan sebelum masa jabatan anggauta DPR RI periode 2009-2014 berakhir, satu UU tentang Pilkada yang langsung mak jegagik disahkan. Lolos. Lulus. Gol. Mari kita membahas pengesahan RUU Pilkada dengan analogi piring berisi jeruk.

Apakah empat piring berisi enam jeruk sama harga, mutu, dan atau kegunaanya  dengan enam piring berisi empat jeruk?

Apakah anda memutuskan akan menyajikan enam piring berisi empat jeruk jika ada tiga orang tamu?

Apakah kebutuhan bangsa Indonesia bisa dipenuhi dengan pemilihan gubernur secara langsung ataukah akan terpuaskan dengan dipilihkan oleh anggauta DPRD? Penulis sedang menelaah isi dari naskah akademik untuk mencoba menarik garis ke belakang tentang apa-apa yang bisa dijadikan alasan kenapa bangsa Indonesia sampai harus menerima jeruk ini.

Yang jelas, mohon maaf untuk masalah Penyiaran ,Perjanjian Internasional,  Pertanahan, Mahkamah Agung,  Kejaksaan RI, KUHP,KUHAP,Peternakan dan Kesehatan Hewan, Jalan, Jaminan Produk Halal,Pengelolaan Keuangan Haji,Tenaga Kesehatan, Keperawatan, Pengurusan Piutang Negara dan Daerah,Usaha Perasuransian, Jaring Pengaman Sistem Keuangan, Keamanan Nasional, Pengawasan Sediaan Farmasi, Alat kesehatan, dan perbekalan kesehatan rumah tangga, Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan, Perlindungan Pekerja Indonesia di luar negeri,Pemerintah Daerah,Tabungan Perumahan Rakyat,Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat, Kepalangmerahan,Perubahan Harga Rupiah, Keuangan Negara, Advokat,Hak Cipta,Administrasi Pemerintahan,Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,Hukum Disiplin Militer, Pencarian dan Pertolongan, Larangan Minuman Beralkohol,Sistem Perbukuan Nasional, Pengelolaan Ibadah Haji dan Umrah, Kebudayaan, Perkebunan, Konservasi Tanah dan Air,Radio Televisi RI dan tidak lupa tentang Perlindungan Anak; semua harus menyingkir terlebih dahulu.

referensi:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/09/23/nccv22-garagara-6×4-dan-4×6-profesor-itb-berdebat-dengan-profesor-ui

http://nasional.kompas.com/read/2014/09/26/14525891/Presiden.SBY.Mengaku.Berat.Tanda.Tangani.UU.Pilkada

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

Yang ditunggu-tunggu di WP

 

WP? Wajib Pajak? bukaaan. tapi Windows Phone. Coba buka Internet Explorer, lalu buka artikel.
wp_ss_20140827_0001

 

klik tanda buku itu, nah jadinya seperti ini:

 

 

wp_ss_20140827_0002

Namanya sih reading mode. Hanya di WP 8.1 :D

Posted in otjehan sagala matjem, tricks | Tagged , | Leave a comment

Salah paham lampu sein

Sekian lama terbiasa melakukan perjalanan baik dekat maupun jauh dengan mengendarai mobil atau sepeda motor, mungkin saja kita menganggap diri kita sudah mahir dan cenderung mengabaikan  hal-hal mendasar. Misalnya, menginjak pedal / menarik tuas akselerator (jawa: gas)  pastinya sudah masuk dalam gerak bawah sadar tatkala kita berkendara. Demikian pula dengan menyalakan lampu sein atau turn signal atau richting.

Lampu sein sesungguhnya mempunyai fungsi untuk menandakan bahwa kendaraan bermotor akan berpindah arah / jalur. Jadi bisa digunakan saat berbelok, pindah lajur di jalan raya, atau hendak mendahului kendaraan yang ada di depannya. Nah, disinilah  seringnya terjadi kesalahpahaman bagi yang tidak memahami sepenuhnya tentang penggunaan lampu sein.

Yang sering terjadi adalah, mobil atau sepeda motor  menyalakan lampu sein tepat saat mereka berbelok. Seharusnya, lampu sein dinyalakan untuk memberi sinyal kepada pengguna jalan bahwa kendaraan kita akan berbelok, pindah lajur atau melambat untuk berhenti. Kata kuncinya adalah ‘akan’ atau ‘hendak’, bukan ‘saat’ atau ‘sudah’ berbelok/pindah lajur. Nanti kalau sudah selesai pindah lajur atau sudah lurus lagi, lampu sein semestinya langsung dimatikan. Beberapa produsen mobil/motor sudah menerapkan hal semacam ini.

Nah gitu ya, jadi guys/gals, next time nyupir atau motoran jangan lupa yaaa, lampu sein dinyalakan jauh-jauh menit dari kamu pindah lajur/belok/nyalip. jangan maen hape/bb/android mulu yaa kalo nyetirr..

catatan nyempil: jaman semana dulu, di Semarang, kalo lampu riting di kendaraan kita masih nyala padahal ndak belok-belok, biasanya ada aja sesama pengendara di jalan raya yang akan menegur dan kasih tanda untuk mematikan lampu sein kita.

 

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , | 2 Comments

Tentang Perang, Film Perang, dan Peng-engkau-an

Memang selalu ada dua sisi dari sesuatu. Kali ini pada film tentang perang, menyaksikan film tentang perang, dan pengarahan terhadap perang.

Menyaksikan film perang, pada satu sisi membentuk sikap hidup yang mendua pada perang itu sendiri. Sikap pertama adalah “memuliakan” perang. Sikap kedua adalah “menghinakan” atau “menistakan” perang.

Pemuliaan perang timbul dari pandangan bahwa perang itu perlu, dan adil. Perdamaian adalah jeda di antara dua keadaan perang. Maka pembenaran demi pembenaran pun timbul terhadap penyelenggaraan perang.

Penistaan perang adalah sikap yang berkebalikan dari pemuliaan perang; perang pada dasarnya menghancurkan – menihilkan, tidak sesuai dengan tugas dan fungsi manusia sebagai penjaga kelangsungan hidup di bumi ini.

Film atau tayangan tentang perang sendiri, ada dua jenis pula (dan ada jenis yang hybrid): film yang memuliakan perang, dan film yang menistakan perang.

Lalu, apa hubungannya dengan peng-engkau-an? Menurut saya, seruan yang akhir-akhir ini semakin marak di Indonesia adalah salah satu bentuk pembenaran terhadap adanya Perang di tanah air. Mengapa? Jika diperhatikan, jargon-jargon yang digunakan adalah selalu membenturkan antar golongan umat ber agama – Islam dengan Non-Islam, Sunni vs Syiah, memberikan contoh-contoh tayangan tentang kekerasan terhadap  Islam/Sunni/Syiah di negara-negara luar Indonesia, dan semacamnya. Jika nantinya darah tertumpah,seperti yang pernah terjadi (atau masih?) di periode 1999-2000, maka semua itu jadi syah belaka. Demi apa? saya pun tak pernah yakin dengan apa yang diyakini mereka yang pernah atau sedang meng-engkau-kan golongan lain sedemikian rupa sehingga

Tulisan ini tidak  dimaksudkan untuk memakai teori-teori dan atau memuat pranala-pranala baik yang mendukung maupun yang menentang peng-engkau-an dan menentang atau mendukung propaganda perang. Sudah cukup lelah rasanya melihat linimasa di salah satu akun ku yang dipenuhi celotehan sahabat-sahabat ku tentang syiah atau sunni atau sanny atau sanna atau sono yang keji/kejam/takbermoral/halaldarahnya bla bla bla. cukuplah, ndak usah ditulis di sini.

Oya, untuk disclaimer: penulis memang gemar membaca/memirsa/mendengar/menelaah tentang perang dan alat perang, namun menjaga kesadaran bahwa perang hanyalah bentuk negosiasi yang gagal dan berkonsekuensi mengakhiri dengan paksa sebuah bentuk kehidupan.

Untuk membuka cakrawala, silahken menonton film bermuatan perang semacam Midnight’s Children atau War Horse, serta In the Land of Blood and Honey. Kalau seusai nonton 3 film tadi anda masih bilang bahwa membunuh dalam perang itu enak dan perlu,ya terserah deh :D

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged | Leave a comment