Salah paham lampu sein

Sekian lama terbiasa melakukan perjalanan baik dekat maupun jauh dengan mengendarai mobil atau sepeda motor, mungkin saja kita menganggap diri kita sudah mahir dan cenderung mengabaikan  hal-hal mendasar. Misalnya, menginjak pedal / menarik tuas akselerator (jawa: gas)  pastinya sudah masuk dalam gerak bawah sadar tatkala kita berkendara. Demikian pula dengan menyalakan lampu sein atau turn signal atau richting.

Lampu sein sesungguhnya mempunyai fungsi untuk menandakan bahwa kendaraan bermotor akan berpindah arah / jalur. Jadi bisa digunakan saat berbelok, pindah lajur di jalan raya, atau hendak mendahului kendaraan yang ada di depannya. Nah, disinilah  seringnya terjadi kesalahpahaman bagi yang tidak memahami sepenuhnya tentang penggunaan lampu sein.

Yang sering terjadi adalah, mobil atau sepeda motor  menyalakan lampu sein tepat saat mereka berbelok. Seharusnya, lampu sein dinyalakan untuk memberi sinyal kepada pengguna jalan bahwa kendaraan kita akan berbelok, pindah lajur atau melambat untuk berhenti. Kata kuncinya adalah ‘akan’ atau ‘hendak’, bukan ‘saat’ atau ‘sudah’ berbelok/pindah lajur. Nanti kalau sudah selesai pindah lajur atau sudah lurus lagi, lampu sein semestinya langsung dimatikan. Beberapa produsen mobil/motor sudah menerapkan hal semacam ini.

Nah gitu ya, jadi guys/gals, next time nyupir atau motoran jangan lupa yaaa, lampu sein dinyalakan jauh-jauh menit dari kamu pindah lajur/belok/nyalip. jangan maen hape/bb/android mulu yaa kalo nyetirr..

catatan nyempil: jaman semana dulu, di Semarang, kalo lampu riting di kendaraan kita masih nyala padahal ndak belok-belok, biasanya ada aja sesama pengendara di jalan raya yang akan menegur dan kasih tanda untuk mematikan lampu sein kita.

 

Tentang Perang, Film Perang, dan Peng-engkau-an

Memang selalu ada dua sisi dari sesuatu. Kali ini pada film tentang perang, menyaksikan film tentang perang, dan pengarahan terhadap perang.

Menyaksikan film perang, pada satu sisi membentuk sikap hidup yang mendua pada perang itu sendiri. Sikap pertama adalah “memuliakan” perang. Sikap kedua adalah “menghinakan” atau “menistakan” perang.

Pemuliaan perang timbul dari pandangan bahwa perang itu perlu, dan adil. Perdamaian adalah jeda di antara dua keadaan perang. Maka pembenaran demi pembenaran pun timbul terhadap penyelenggaraan perang.

Penistaan perang adalah sikap yang berkebalikan dari pemuliaan perang; perang pada dasarnya menghancurkan – menihilkan, tidak sesuai dengan tugas dan fungsi manusia sebagai penjaga kelangsungan hidup di bumi ini.

Film atau tayangan tentang perang sendiri, ada dua jenis pula (dan ada jenis yang hybrid): film yang memuliakan perang, dan film yang menistakan perang.

Lalu, apa hubungannya dengan peng-engkau-an? Menurut saya, seruan yang akhir-akhir ini semakin marak di Indonesia adalah salah satu bentuk pembenaran terhadap adanya Perang di tanah air. Mengapa? Jika diperhatikan, jargon-jargon yang digunakan adalah selalu membenturkan antar golongan umat ber agama – Islam dengan Non-Islam, Sunni vs Syiah, memberikan contoh-contoh tayangan tentang kekerasan terhadap  Islam/Sunni/Syiah di negara-negara luar Indonesia, dan semacamnya. Jika nantinya darah tertumpah,seperti yang pernah terjadi (atau masih?) di periode 1999-2000, maka semua itu jadi syah belaka. Demi apa? saya pun tak pernah yakin dengan apa yang diyakini mereka yang pernah atau sedang meng-engkau-kan golongan lain sedemikian rupa sehingga

Tulisan ini tidak  dimaksudkan untuk memakai teori-teori dan atau memuat pranala-pranala baik yang mendukung maupun yang menentang peng-engkau-an dan menentang atau mendukung propaganda perang. Sudah cukup lelah rasanya melihat linimasa di salah satu akun ku yang dipenuhi celotehan sahabat-sahabat ku tentang syiah atau sunni atau sanny atau sanna atau sono yang keji/kejam/takbermoral/halaldarahnya bla bla bla. cukuplah, ndak usah ditulis di sini.

Oya, untuk disclaimer: penulis memang gemar membaca/memirsa/mendengar/menelaah tentang perang dan alat perang, namun menjaga kesadaran bahwa perang hanyalah bentuk negosiasi yang gagal dan berkonsekuensi mengakhiri dengan paksa sebuah bentuk kehidupan.

Untuk membuka cakrawala, silahken menonton film bermuatan perang semacam Midnight’s Children atau War Horse, serta In the Land of Blood and Honey. Kalau seusai nonton 3 film tadi anda masih bilang bahwa membunuh dalam perang itu enak dan perlu,ya terserah deh :D

Show hidden files di Mac OS X

Resep untuk memunculkan hidden files di OS X – tested di OS X 10.7 alias Lion:

buka Terminal

ketik:

$defaults write com.apple.finder AppleShowAllFiles -boolean true
$ killall Finder

done. untuk kembalikan ke awal tinggal ganti -boolean true ke -boolean false

Langkah kecil ini paling nyaman untuk digunakan untuk melongok isi usb drive/harddrive yang disembunyiken lewat Finder.

 

Apache dan PHP5 di OS X Maverick

Meskipun pelansiran OS X Maverick cukup mengguncang dunia karena harganya yang gratis, harga ini bukan hal yang mengejutkan bagi para pengguna sistem operasi GNU-Linux, maupun UNIX dan keturunan UNIX . Di dalam tubuh OS X Maverick ini masih tersimpan inti kekuatan UNIX – termasuk dengan tetap dipertahankannya server web Apache berikut bahasa pemrograman PHP.

Lokasi konfigurasi  tetap ada di /etc/apache2/httpd.conf , dan PHP5 diaktifkan hanya dengan menghapus # di depan baris kata

#LoadModule php5_module libexec/apache2/libphp5.so

Lokasi dokumen tetap berada di

/Library/Webserver/Document

dan untuk mengaktifkan halaman web personal untuk masing-masing pengguna, silahkan sunting 

/etc/apache2/extra/httpd-userdir.conf

tambahkan baris

# UserDir: The name of the directory which is appended onto a user’s home
# directory if a ~user request is received.
#
<IfModule mod_userdir.c>
UserDir Sites
</IfModule>

#
# Control access to UserDir directories. The following is an example
# for a site where these directories are restricted to read-only.
#
<Directory /Users/*/Sites>
AllowOverride FileInfo AuthConfig Limit
Options MultiViews Indexes SymLinksIfOwnerMatch IncludesNoExec
<Limit GET POST OPTIONS PROPFIND>
Order allow,deny
Allow from all
</Limit>
<LimitExcept GET POST OPTIONS PROPFIND>
Order deny,allow
Deny from all
</LimitExcept>
</Directory>

 

kemudian simpan berkas tersebut, dan muat ulang Apache2

$sudo apachectl graceful

 

ps: clean install OS X Maverick hanya menghabiskan ruang harddisk l.k 12GB

USB-Serial PL2303 dan /dev/tty.PL2303

Pada beberapa posting yang berhubungan dengan penggunaan kabel PL-2303 (USB – TTL Converter), saya sering menulis seperti ini

$screen /dev/tty.PL2303-001012FA

Mohon perrhatikan kode dibelakang /dev/tty.PL2303-xxxx . Kode ini bisa berubah sesuai dengan angka yang tertera saat anda melakukan perintah:

$ls /dev/tty.*

Maka tak usah heran jika tulisan angka di belakang /dev/tty.PL2303 bisa berbeda-beda di beberapa posting mengenai penggunaan kabel USB – TTL tersebut.

TP-LINK TL-WN422G on Debian 7 a.k.a Wheezy

the non open source way !

make sure it’s the device

# lsusb
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 002 Device 002: ID 05e3:0608 Genesys Logic, Inc. USB-2.0 4-Port HUB
Bus 002 Device 005: ID 0cf3:1006 Atheros Communications, Inc. TP-Link TL-WN322G v3 / TL-WN422G v2 802.11g [Atheros AR9271]

there ! Atheros AR9271

1. edit /etc/apt/sources.list  and put this line

deb http://mirror.aarnet.edu.au/debian/ wheezy main contrib non-free

2. then fire up the terminal !

#apt-get update && apt-get upgrade

# apt-get install firmware-atheros

# apt-get install wpasupplicant

3. done? let’s edit /etc/network/interfaces

put these lines

auto wlan0

iface wlan0 inet dhcp

wpa-ssid yourbelovedaccespoint

wpa-psk thesecretcode

4. ready to test?

#iwlist scan

if you can see waaayyy too many wireless access point, then you are good to go.

#ifup wlan0

or

#/etc/init.d/networking restart

done !

ps: if there’s no AP around you, then stop. close the laptop or shutdown the PC, get on your feet, go outside your room/office, and enjoy the view.

ref:

https://wiki.debian.org/ath9k_htc

https://wiki.debian.org/WiFi/HowToUse

How to debrick your TPLINK MR-3020

atau .. bagaimana cara meniru yang tak baik untuk memulihkan TPLINK MR-3020.

Niat saya sebenarnya tulus, ingin mencontoh teknik di situs ini yang gambarnya memperlihatkan kabel-kabel nan rapi.

Tapi kog jadinya gini yaaa

IMG_0507


jangan ditiru !

Seperti biasa, untuk urusan brick debrick ini, kita akan menghubungkan TP-LINK MR-3020 ke kabel ethernet serta menghubungkan ketiga titik di motherboard router ke port usb di komputer menggunakan kabel USB-TTL PL2303.
Siapkan juga firmware openwrt di sebuah tftp server contoh openwrt-ar71xx-generic-tl-mr3020-v1-squashfs-factory.bin
karena namanya kepanjangen saya rename aja jadi 3020.bin
TP-LINK MR-3020 terhubung ke komputer OS X sedangkan tftp server tersedia di jaringan.
di terminal, ketik
$screen /dev/tty.PL2303-001012FA 115200 8n1
hidupkan MR-3020, 1-2 detik kemudian segera ketik

tpl

maka doi akan memunculkan prompt

hornet>

langkah selanjutnya
hornet> setenv ipaddr 192.168.1.111
hornet> setenv serverip 192.168.1.100
hornet> tftpboot 0x80000000 3020.bin
eth1 link down
dup 1 speed 100
Using eth0 device
TFTP from server 192.168.1.100; our IP address is 192.168.1.111
Filename ‘3020.bin’.
Load address: 0x80000000
Loading: #################################################################
done
Bytes transferred = 3932160 (3c0000 hex)

hornet> erase 0x9f020000 +0x3c0000

First 0x2 last 0x3d sector size 0x10000 61
Erased 60 sectors

selanjutnya
hornet> cp.b 0x80000000 0x9f020000 0x3c0000
Copy to Flash… write addr: 9f020000

done

terakhir
hornet> bootm 9f020000

Nah, sudah !

Nilai pada setenv serverip dan ipaddr di atas adalah default, anda bisa menyesuaikan dengan kondisi di lapangan (jiaaah…)

 

Oya, sebelum lupa, ini bentuk kabelnya

USB TTL PL2303

USB TTL PL2303

Cara Remote Desktop ke Ubuntu/Debian

Punya komputer dengan OS ubuntu/keturunan debian tapi layar monitor lagi rusak? atau laptop lcd nya error?
Untuk pengguna gnu-linux yang sudah ahli/masta/suheng pasti langsung ambil laptop lain dan segera angkat senjata menyambung ke laptop/desktop headless itu dengan sedikit ssh ber bumbu X11 forwarding. Namun, daripada susah2 ngapalin perintah ssh, kan mendingan pake remote desktop yah?

Nah, untuk me remote komputer berbasis debian dan keturunannnya (ubuntu, lubuntu, kubuntu, iBuntu dkk) – bisa juga untuk linux2 lain tapi saya belum coba – maka kita pasang saja remote desktop untuk debian ini.
cintaku Caranya sederhana:

Di terminal,sebagai root dan atau memakai sudo, ketik:

#apt-get update && apt-get upgrade
#apt-get install xrdp

nanti doi akan cari, unduh, dan pasang perangkat2 lunak yang diperlukan.
selesai?

selesai pasang xrdp

selesai pasang xrdp


sekarang, silahkan menuju ke alamat desktop/laptop/server yang telah terpasang xrdp tadi dengan software remote desktop kesayangan anda.

remote desktop

remote desktop


nih hasilnya
halaman login xrdp

halaman login xrdp


Biar sampeyan-sampeyan ini tambah yakin, silahkan lihat caption gambar di atas. Saya ndak nggedebhus, itu adalah remote desktop ke Qnap TS-209 yang telah di sembur pakai Debian 6 .

on Raspberry Pi

I find it hard to find decent tutorial on Raspberry Pi in Bahasa Indonesia. A little blogwalking this morning and I finally found it on a familiar source, the blog of mas TedyThis post on bandwidth control  using Raspi is exactly the one I’ve been looking for.

But for the Raspberry Pi itself, I have another story.

I have always have a place deep inside my heart for those little computer  that sips ridiculously low wattage. Perhaps it was that once in my lifetime, all I need was just a car battery  power  lightbulb (one or two) plus a television set and a two band radio (remember AM/SW ? ), and I live a happy life.

I got my hand on  two (or three?) mini-itx motherboards a few years back as well as a HP Jornada 690. Those are little machines that could satisfy my daily tasks– editing documents, browsing the internet, email, some games. The price for mini-itx was quite good, and the 150w PSU made me believe that I have done service to mother earth. The Jornada itself was amazing for its time. I could use wireless card and it has crazy battery life, so toting around  laptop just for quick edit of office documents or email was not necessary anymore. It was before the time of netbook. But then again, it was USD200 versus USD400 for a new netbook for that time. The laptop from my workplace? more than USD1500 I’d say.

I spent some time learning the basic of gnu-linux  and tasted FreeBSD on the the mini-itx and  Jornada. And then I began to know Mac with their PPC processor and their mindbogglingly low wattage. PPC  laptop or mac mini + OS X was the holy grail. Low power usage, instant-on, and beautiful GUI. Mini-itx was no longer the only energy saver computer.

Then Mac went south to the Intel camp. Then came along Intel Atom. Then netbook. ultrabook. tablet. android in a stick. and so on and so on and on. But I didn’t budge.

Fast forward to 2012, came Raspberry Pi. A single board computer with 512mb of memory and  700mhz processor, can (could only) boot from SD card or USB flash drive, has HDMI as well as RCA port. Now it is possible to have a  computer that only needs a 5v micro usb power adapter , and in an instant I have a computer more powerfull than my previous mini itx boxes. With 3.5watt of power usage ! I still haven’t try  *BSD, though.

Nevertheless, very few tutorials recommends using Raspberry Pi for sarary man’s daily computer. We could argue about that for ever, but I’d say it suffice for email and browsing the internet.  We’ll see more about that.