tentang Road Rash

Alkisah di suatu hari di negeri ini, dua mobil salip-salipan, sebut saja si merah dan si putih. saking serunya,entah pada titik yang mana,  akhirnya sopir si merah muntab, ia  mengeluarkan pestol bertenaga angin ber mimis alumunium nya. cekrek, tash, cetarrr (atau blush, prak, yang jelas gak terlalu jederr), jendela si putih bolong. kebetulan di dalem si putih ada istri dan 2 anak sopir. kebetulan si merah sopirnya muda dan sendirian. lalu sopir si putih curahkan perasaan ke jaringan sosial,dan kisah dua mobil ini pun diliput media massa berkaliber nasional. lha ndilalahnya dua mobil ini lagi jalan di jalan tol nya ibukota negara jhe, jadi ya beritanya cepat tersebar luas merata seperti cita-cita pembangunan nasional.

saya sendiri pun pernah beberapa kali dalam posisi emosionil semacam sopir merah dan putih. bedanya ya saya sedang memegang stang bronpit. kadang sampe geber-geberan, kepet-kepetan, gara-gara entah mobil entah motor entah bis koq sepertinya seneng sruntal sruntul belak belok sakpenake semacam ayam jago yang lagi kasmaran kejar-kejaran sama babonnya. konyolnya kalo kadang di dialog i, mereka jawabnya seperti musyawarah mufakat : lha mana, anda kan belum ketabrak. manna, anda gak kesrempet. maannnaa, anda kan ndhak jatuh kesungkur.

trus jadi akhirnya capek sendiri, senyum kecut pribadi. beberapa kali juga ditegor, didhem-dhem oleh sesama motorers ‘pak, udah biarin aja dia. wong edan jangan diladeni’.

imajinasi liar sempat mencuat. andainya bronpit saya bisa seperti Street Hawk. Njumping, kalo dibleyer  langsung standing dan bisa lari kenceng, dan last bet not list, punya   mitralliur bisa menembak ke sasaran dengan sangkil dan mangkus. paling tidak kalo senjata api abis pluru ya masih bisa pede tendang-tendangan kayak game jadul jaman dos Road Rash itu.

tapi kan saya bukan Kotaro Minami ….

sumber inspirasi:

kisah 1

kisah 2

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , | Leave a comment

tentang TOA masjid, Jusuf Kalla, dan Umar Kayam

Bulan Ramadhan 1436H telah terlampaui. Bagi sebagian rakyat Indonesia yang kebetulan bermukim di kawasan DKI Jakarta pastinya juga merasakan getaran-getaran di rumah/kost/kontrakan berkurang secara signifikan setelah speaker dan atau penabuh drum dini hari tak lagi mewarnai malam hari.
Nah, mari kita satroni kembali polemik komentar Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengenai polusi suara yang diakibatkan penggunaan pelantang suara yang berlebihan di langgar/musholla/masjid terutama di kota-kota besar di Indonesia.

beberapa cuplikan berita:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/10/npnr9a-ustaz-yusuf-mansur-minta-maaf-kalau-suara-kaset-masjid-mengganggu

http://www.republika.co.id/berita/video/bincang-tokoh/15/07/28/ns70a1216-jk-saya-tidak-pernah-melarang-speaker-di-masjid-1

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150609103800-20-58690/hasyim-muzadi-jangan-persoalkan-rekaman-tapi-speaker-masjid/

Saya tidak akan mengulas tentang kebisingan speaker atau TOA, baik yang menyalurkan suara asli maupun suara rekaman. Silahkan simak alinea terakhir dari kolom Umar Kayam tahun 1991

Dan dengan cekatan ia lari ke belakang. Di teras depan sambil menghirup hawa, saya mendengar azan memanggil orang bersembahyang Isya dan Tarawih. Suara itu lamat-lamat mungkin dari mesjid di seberang kali. Justru karena lamat-lamat itu kedengarannya begitu damai dan khusyuk.

Kalimat terakhir, begitu hakdes.. tepat di jantung atau ulu hati lah pokoknya…

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

Titil-titil Syndrome (Umar Kayam,1992)

Sedianya kolom Umar Kayam ini hendak saya salin ke blog yang khusus menjadi tempat arsip cerpen semacam. Namun melihat headline Kompas online hari ini, saya jadi tergelitik untuk membaginya ke blog. Monggo disemak para sedhulur….

headline Kompas online 30 Juli 2015

Budaya Titil-titil Atawa The Titil-titil Syndrome

Tempoh hari, sore-sore waktu saya sedang menikmati lincak yang baru karena lincak paringan Romo Mangunwijaya sudah betul-betul game. Mister Rigen yang sedang berlari-lari di belakang ToloTolo sembari berteriak: hak-hak-haak dan menyangga piring nasi-sop, begitu saja stop di depan saya.

Saya tertawa melihat bolehnya dirjen saya itu mak stop secara tiba-tiba. Napasnya terengah-engah, sop di piring di tangan kanan, krah baju Tolo-Tolo di tangan kiri. „

“Sop di tangan kananmu, krah hem di tangan kirimu . . . .”

Sambil terengah-engah, tapi mringis, Mister Rigen anyel menanggapi nyanyian saya itu.

“Ayak, Bapak. Menyanyi saja lagu yang kuno . . .”

“Elho! Ning rak masih relevan to buat kamu?”

“Ah, mboten ngertos, Pak. Bapak sukanya pake kata-kata asing kalau sedang anyel atau kepepet
sama wong cilik. Bapak kok ternyata sami mamon dengan ngintelek sing sok-sok itu.”

Saya jadi tertawa cekakakan. Sementara itu saya lirik, saya lihat Beni Prakosa titil-titil daging sop dari piring adiknya. Matanya yang besar-besar itu kelihatan badung sinarnya.

“Pak, iwaktu, Paak, iwaktu dititil Beni, Paak.”

Dengan cepat bapaknya memukul tangan Beni tapi luput. Bedhes yang besar lari sembari meng-iwi-iwi.

“Hora kena. Hora keno, Paak.”

“Awas kowe, awas koive.”

“Hualah, Geen, Gen. Kok bolehnya kamu sewot sama anak. Mbok biar. Kayak kamu tidak pernah mencuri, nguriki lauk adikmu waktu kecil.”

Mister Rigen tertawa nggleges. Mungkin ingat kelakuannya waktu masih kecil.

“Iya apa nggak, Gen? lya apa nggak?”

“Heh-heh-heh. Kayaknya adik di seluruh ndonya itu harus diuriki, dicolong imak-nya, nggih?’

“Ha iya! Taunya mengaku.”

“Tapi rak kulo mandek sak nitil tempe adik-adik kulo. Teman saya yang mengganti carik clan lurah bapak-bapak mereka itu terus saja melanjutkan ngelmu titil-titil-nya itu, Pak.”

“Ayak, kamu itu. Betul apa?”

“Ayak, ganti saya yang ayak sekarang. Bapak itu gaharu cendana pula. Sudah tahu ethok-ethok lupaa. Wong Bapak sendiri yang ngendika di pengukuhan Bapak jadi propesor begitu, Iho. Katanya, korkat, korupsi melekat.”

“lyo, iyo, Gen. Terus, terus, terus?”

“Lha ya itu, Pak. Sesudah mereka jadi perangkat desa, lha budaya titil-titil kok diteruskan. KUD dititili, ongkos balik tanah dititili, uang sangu transmigrasi dititili, pokoke kabeh dititili. Lha, itu kalau naik, naik terus pangkatnya sampai dhuwur banget di Jakarta titilane mestinya rak semangkin besar to, Pak.”

“Hus, hus, jangan galak-galak banget begitu kamu, Gen. Orang itu rak ada kenyangnya to, Gen. Ibaratnya anakmu Beni itu titil-titil kalau sudah cukup rok ya kenyang terus berhenti titil-titil daging adiknya.”

“Beni? Berhenti titil-titil? Wo, jeneh keajaiban dunia.”

“Sudah kita sekolahkan di SD Indonesia Hebat dengan kurikulum dahsyat itu? Masih mau titil-titi!?”

“Lha, yang titil-titil malah membrakoti empal dan balung negoro itu kurang sekolah tinggi apa to, Pak. Rak inggih tinggi-tinggi semua to, Pak. Saya kok semangkin khawatir budaya titil-titil itu tidak bakalan sembuh. Wong itu sudah budaya kita kok, Pak.”

“Geen, Gen. Mbok kamu itu jangan pesimistis-pesimistis begitu, to. Itu sama saja dengan bilang kamu itu juga tidak bakalan sembuh bolehmu titil-titil.”

“Lha, tergantung dari kesempatan to, Pak.”

“Elho, kalo begitu kamu memang titil-tifil di rumah ini. Wong kesempatan itu tak kasih lebar-lebar. Lemari pakaian saya saja tidak pernah saya tutup apalagi dikunci. Dapur ngablok-ablak, terbuka lebar. Lemari es mbok es prongkol saya sak termos kamu brokoti sak anak-bojo masih berlebih.”

“Huahaak, Bapak. Lemari pakaian terbuka dan tidak pernah dikunci ning isinya baju gantung-kepuh. Sore dicuci, malam digarang api, paginya diseterika, dipake ke kantor. Dapur isinya tempe sama jangan kangkung. Hanya kalo ada honor lewat masak sop seperti hari ini. Lemari es ya betul Bapak, pabrik es prongkol sampai gigi mrotoli semua.”

Asem kecut, trembelane tenan. Dirjen saya kok jadi sewot, nyrempet-nyempet meng-ina, lho. Apakah dia sebagai jubir wong cilik sudah begitu sampai di leher eneg-nya sama kami para pemimpin? Saya jadi ingat para anggota DPR dan MPR yang baru dilantik dan sebentar lagi akan bersidang membicarakan hal-hal yang gawat-gawat. Apakah mereka akan join the titil-titil class? But what kinds of things could the titil-titil on? Apakah yang di eksekutif saja yang bisa titil-titil? Saya kok jadi ingat sahabat saya Mister Ngalmus alias Mister Almost, yang pada bulan-bulan begini akan mampir ke rumah untuk: minta tolong dilobikan. Dan, eh, seperti ada yang mengingatkan tiba-tiba Mister Rigen menyela.

“Pak, Pak. Pak Ngalmus itu kok belum muncul lagi di sini?”

“Elho, memangnya harus muncul disini, Gen?”

“Lho, biasanya kalo sudah anget pilihan kabinet beliau itu mak jedul, muncul.”

“Belum, Gen. Kalo targetnya kabinet, dia mulai dekat-dekat Desember begitu. Sabar saja nanti rak muncul.”

“Wah, lha ya tinggal sebentar begitu. Wah, kalo beliau itu bisa kepilih jadi menteri kali ini, apa beliau akan juga titil-titil7”

“Lha, menurut wawasanmu bagaimana?”

“Kalo menurut katuranggan dan ngiman supingi-nya, beliau itu, beliau itu yah, yah . . . kayaknya sama saja. Akan titil-titil.”

“Oh, dapurmu Geen, Gen . . . .”

Di kamar, sebelum tidur mukaku tertumbuk pada kaca hias. Sekilas nampak wajahku di remang-remang cahaya kamar. Oh katuranggon, oh, ngiman supingi. Saya lihat mukaku meringis ….

20 Oktober 1992

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

tentang Demak dan Jepara

Salah satu perjalanan menumpang bis antar kota semasa kecil yang masih membekas kuat dalam benak saya adalah tatkala mengunjungi rumah pakdhe (paman), kakak dari ibu, yang tinggal di sebuah desa nelayan di kota Rembang. Perjalanan dari Semarang menuju Rembang ditempuh sekitar tiga atau empat jam dengan rute pantai utara , melalui kota-kota yang selalu saya hapalkan yaitu Demak-Kudus-Pati-Rembang. Di tengah perjalanan Demak- Kudus ada persimpangan menuju Jepara. Kisah tentang desa nelayan tepi pantai di Rembang mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Sekarang saya ingin bercerita tentang sedikit senggolan kenangan saya dengan sejarah bangsa Indonesia.

Demak bagi orang Semarang era 1980an (termasuk saia :D) adalah backwater, keterbelakangan, ndeso, ndesit. Saya tidak heran dengan pemandangan sepanjang jalan yang melalui parit (atau sungai) yang penuh dengan orang yang mandi dan mencuci baju. Yaaa itu, ndesit pikir saya. Kok mau-maunya mandi sambil ncuci dan ada juga yang buang hajat di kaskus pinggir kali seperti itu. Apalagi air parit/sungai itu seringkali berwarna hijau dan kadang kala keruh.

Sedikit menyelip ke selubung warp generator, saya tersentak ketika membaca lembar demi lembar kisah-kisah penyerbuan Adipati Unus, raja Kesultanan Demak ke-2 , ke Port Malaka – semenanjung Melayu alias Malaysia sekarang. Jaman akhir 1980an atau awal 1990an saya belum kenal pakdhe google, maka saya hanya bisa memandangi atlas di dinding sekolahan sambil mengira-ngira dengan jengkal tangan, apa ya benar orang-orang ndesit bin ndeso yang mandi dan mencuci masih di kali (jawa:sungai) itu adalah keturunan yang sama dari prajurit-prajurit dengan kapal yang menerjang menggempur benteng Portugis? Padahal dalam cerita-cerita ketoprak digambarkan bahwa prajurit Metaram, Demak, Pajang, Jipang, itu ya  saktinya jika pakai tombak atau keris. Sementara setahu saya, bangsa Eropa sudah pake senapan api dan meriam. Apakah bisa menyerbu dua kali ke Malaka dengan keris? Sebelum mendarat, dalam bayangan saya, pasti prau-prau Demak sudah hancur lebur disergap kanon Portugis. Tapi nyatanya malah dua kali Demak menyerang, dan di belakang hari saya juga baru tahu bahwa Jepara juga menyerang Malaka saat dipimpin oleh seorang Ratu.

Kesimpulan sementara saya waktu itu adalah, VOC dan kemudian Pemerintahan Kolonial Belanda lah yang memporak porandakan kedigdayaan maritim di seputar pantai utara Jawa termasuk Demak dan Jepara. Faktor lain adalah kegagalan penyerangan Mataram ke Batavia yang berujung pada lepasnya daerah pesisir utara Jawa dari kekuasaan Mataram. Mataram pun semakin menarik diri ke pedalaman, dan sampai sekarang ini sisa-sisa pejuang laut sudah semakin jauh dari sanubari cucu cicit keturunan prajurit-prajurit masa silam.

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

The entire history of the world, in 1 chart – The Washington Post

Sebuah artikel dari The WP yang menggambarkan konsepsi dunia oleh (ilmuwan) Eropa dan Amerika

http://www.washingtonpost.com/blogs/wonkblog/wp/2015/04/27/the-entire-history-of-the-world-in-1-chart/?tid=sm_fb

The entire history of the world, in 1 chart

The 5-foot-long chart below has an ambitious goal: To record 4,000 years of history in a single graphic.

Drawn by John B. Sparks of Rand McNally and Company in 1931, the chart traces world history from the Egyptian Empire through the Assyrians, Persians, Romans and Huns through the early 20th Century. It’s clearly a Eurocentric and dated view of the world’s history: The colors represent different racial groupings, as they were perceived in the 1930s – “Mediterranean People,” “Alpine People,” and “Mongolian People.”

The width ostensibly shows the rise and fall of these groupings, though that metric seems far from fair — China is given just a sliver of the chart at the right-hand side, and India even less. Even so, the chart is an interesting historical artifact, showing how Europeans and Americans conceived the history of the world in the early 20th Century.

Republished courtesy of the David Rumsey Map Collection, www.davidrumsey.com.

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

Media Sosial dan Pengambilan Kebijakan Publik

Ketika sebuah berita berupa gambar tersebar di media sosial mengenai rencana memberikan komponen tambahan untuk gaji pegawai negeri sipil (atau aparatur sipil negara atau abdi rakyat atau abdi negara), sebuah selipan berita menyatakan bahwa seorang pejabat tinggi marah dan meminta pengusutan penyebaran gambar rincian komponen tersebut. Ada dua hal yang bisa dicermati dalam peristiwa ini, pertama mengenai teknologi informasi dalam konteks hukum dan yang kedua adalah mengenai pengambilan kebijakan publik yang (seharusnya) transparan.

Negara dan aparatur yang mewakili representasi negara, akan selalu menghadapi tantangan dalam  dunia komunikasi yang seringkali diluar pemahaman tentang batas wilayah hukum. Misalnya, dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik pasal (2) yang berbunyi:

Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

penjelasan Pasal 2

Undang-Undang ini memiliki jangkauan yurisdiksi tidak semata-mata untuk perbuatan hukum yang berlaku di Indonesia dan/atau dilakukan oleh warga negara Indonesia, tetapi juga berlaku untuk perbuatan hukum yang dilakukan di luar wilayah hukum (yurisdiksi) Indonesia baik oleh warga negara Indonesia maupun warga negara asing atau badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing yang memiliki akibat hukum di Indonesia, mengingat pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik dapat bersifat lintas teritorial atau universal.
Yang dimaksud dengan “merugikan kepentingan Indonesia” adalah meliputi tetapi tidak terbatas pada merugikan kepentingan ekonomi nasional, perlindungan data strategis, harkat dan martabat bangsa, pertahanan dan keamanan negara, kedaulatan negara, warga negara, serta badan hukum Indonesia.

pasal ini menurut saya, tidak menghormati prinsip bahwa hukum sebuah negara tidak bisa melintasi batas wilayah negara. Hukum internasional, misalnya, adalah semata kesepakatan dari representasi negara terhadap perjanjian-perjanjian baik bilateral maupun multilateral. Itulah mengapa lembaga legislatif harus meratifikasi perjanjian internasional, dan itulah mengapa bisa saja apa yang Indonesia akui sebagai ‘hukum internasional’ ternyata di negara lain tidak diakui.

Maka, ketika sebuah berita yang mungkin dianggap sebagai rahasia negara tersebar di media sosial, maka sebenarnya negara tidak bisa melakukan tindakan jika si penyebar memakai media sosial yang memiliki server di Timbuktu misalnya. Apalagi jika tindasan berita tersebut sudah tidak lagi ada di perangkat yang dipegang oleh si penyebar. Maka di Indonesia, hal ini disiasati negara dengan mewajibkan berbagai penyedia layanan media sosial untuk menempatkan perangkat server nya di dalam wilayah Indonesia.

Di sisi lain, kita di Indonesia sering lupa bahwa dengan sekedar menyalin sebuah gambar dari laman media sosial pada posting ke-100 di hari D jam H dari orang yang bernama Timitime tidak dengan serta merta bisa menjadi bukti bahwa Timitime adalah Timitime yang satu kantor dengan kita, atau bahwa posting ke-100 pada jam H hari D tersebut benar-benar merupakan tulisan/gambar yang diambil dari si Timitime sendiri.

Kita beranjak pada masalah pengambilan kebijakan yang menyangkut kepentingan publik. Gambar yang tersebar di laman media sosial menunjukkan besaran tunjangan transportasi untuk pegawai, dengan nominal yang berbanding lurus dengan tingkat golonga, 1-5 (golongan 5 adalah level terendah). Kritik pertama: tunjangan ini tidak memisahkan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Kritikan kedua: golongan dengan level 1 s.d 3 menurut harkat kebiasaan di Republik Indonesia rata-rata sudah dibekali dengan kendaraan dinas berikut ubo rampe nya. Belum ada (?) indikasi apakah fasilitas kendaraan dinas plus plus itu akan dicabut seiring dengan pemberian tunjangan transportasi tersebut.

Kritikan ketiga, dan ini menyangkut transparansi pengambilan kebijakan yang memberikan dampak pada anggaran negara sehingga menyangkut kepentingan para pembayar pajak : Jika memang ada rencana pemberian tunjangan transportasi, atau dalam skala lebih luas jika ada kebijakan yang sekiranya berdampak pada penambahan atau pengurangan anggaran negara, maka pendapat para pembayar pajak seharusnya menjadi salah satu konsideran. Media sosial menurut saya bisa menjadi sebuah ajang forum diskusi yang jauh lebih luas cakupannya dibandingkan dengan rapat di dalam kantor dengan mengundang nara sumber. Apabila ada rencana kebijakan tentang pengelolaan dana pensiun pegawai negeri misalnya, melalui media sosial bisa saja tiba-tiba oom Safir Senduk atau bang Poltak Hotradero nimbrung berdiskusi. Media sosial merupakan salah satu bentuk partisipasi dan pengawasan bagi sebuah instansi publik (yang saya artikan sebagai instansi yang mendapat pembiayaan dari pajak warga negara).

Jika kita kembali ke awal tulisan, bahwa Negara Indonesia melalui UU ITE menyatakan bawah tindakan Orang didalam media sosial adalah tindakan berdampak hukum, maka pernyataan/pendapat bang Poltak mengenai pengelolaan dana  Tabungan Perumahan Rakyat Pensiun PNS wajib pula menjadi salah satu masukan yang bernilai sama dengan pendapat bang Poltak dalam rapat internal Kementerian XYZ yang membahas isu serupa. Dan ini berlaku bahkan jika bang Poltak menulis di linimasa saat sedang terbang di atas Timbuktu. Bahkan jadi lebih mangkil dan mangkus karena tidak perlu memberikan honor nara sumber, jadi menghemat sekian rupiah dari anggaran negara.

Kecualiiiii… jika UU ITE ini menerapkan idealisme pilih-pilih (Thomas NPD Keraf, 2000an), yaa saya menyerah deh kalo gitu…

 

Posted in misc., otjehan sagala matjem | Tagged | Leave a comment

OpenBSD 5.6 install software behind proxy

OpenBSD 5.6

#export http_proxy=http://username:password@proxy:port
#export PKG_PATH=http://mirror.internode.on.net/pub/OpenBSD/5.6/packages/i386/

done

 

Posted in otjehan sagala matjem, tricks | Tagged | Leave a comment