tentang pasca pembubaran 3 in 1

beberapa kali percakapan ngalor ngidul menyentuh masalah kemacetan di Jakarta yang makin menggila terutama setelah kebijakan pembubaran penghapusan three in one di jalan protokol jantung Jakarta, Sudirman. Eh ya, pada gak bosen ya membaca masalah macet Jakarta?

opini ku : macetnya bukan karena aturan di jalanan, tapi karena orang-orang yang mengeluh macet itu masih tetap mengendarai mobil pribadi untuk pulang pergi ke tengah JakartaūüėÄ loh koq motor ga disebut?

jadi gini. yang mengeluh kondisi macet tidak hanya saat di Sudirman, tetapi di ruas tol juga. nah, di tol  ada motor gak? ada, punya petugas yang berwenang atau orang gokil.

mau apapun alasannya, apakah karena gerbang tol yang bikin macet atau jalan tol yang rusak, faktanya tetep saja di jam pergi dan pulang kerja, tol jabodetabek macet. salah motor pasti ! nah mobil-mobil itu menuju satu titik. bisa dibayangin kan?

demikian opini tanpa fakta kuat ini…

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

tentang Iman – Ahlak – Ilmu

Rasanya baru kemarin pagi bayi ku lahir. Balita yang sekarang sudah mulai menirukan gerakan-gerakan saat sholat tarawih, dan sudah bisa mengucapkan aamiiin seusai Al-Fatihah dibacakan, dengan tempo yang sama dengan jamaah yang lain. Tapi bukan itu yang paling kusyukuri dari krucil ku. Aku sudah senang dan syukur kala ia mau mengucapkan “uwun (nyuwun)” , “minta”, atau “boleh, boleeh?” saat meminjam mainan atau meminta makanan/minuman dari orang lain termasuk pengasuh dan teman sebayanya. Dan mau membaca basmalah saat mulai makan atau minum. Juga saat sholat sudah mau relatif tenang, tidak berlari-lari diantara shaf.

Ini adalah sebuah catatan kecil  dalam  serial mengikuti fase mengasuh anak dalam skema iman Рahlak Рilmu, sebagaimana disampaikan oleh Pak Amiruddin yang sangat kunantikan lanjutan nya, soalnya baru separo jalan  uraiannya waktu sudah keburu habis:D

one more thing, yang sedikit mengusik benakku juga sudah terjawab. tentang Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah. ternyata jadi kaya raya bukan salah satu contoh utama dari baginda Rasulullah,¬† karena Beliau berdagang dan kemudian memperistri Siti Khadijah yang kaya raya saat belum mendapatkan wahyu kenabian. Salah satu kisah nya – kalau tidak salah dalam HR Bukhari –¬† adalah bahwa untuk membeli bahan makanan berupa gandum, Rasulullah SAW sampai menggadaikan baju zirah (armor/baju besi) kepada seorang Yahudi.Ini sekaligus juga menjadi cerita untuk anakku agar tidak menyia nyiakan makanan, karena sebutir saja gandum/beras/jagung yang tercecer itu sesungguhnya sangat berharga.

Demikian tulisan random pagi ini….

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

artikel lenyap di kompasiana

Artikel perdana ku berjudul Windows 10, os x, dan openbsd ternyata dianggap tidak masuk dalam kriteria yang patut tayang di kompasiana oleh pengelolanya. alias admin.atau superadmin

tidak ada pemberitahuan apapun mengenai kriteria mana yang tidak sesuai. padahal isi nya sekedar menunjukkan bahwa openbsd adalah saudara jauh nya OS X, dan sekarang ketiga sistem operasi ini sudah sama-sama digratiskan – meskipun untuk windows 10 sendiri masih dengan berbagai syarat dan ketentuan. pertanyaan mendasar nya adalah mengapa os gratis ini tidak populer di Indonesia yang katanya orang-orangnya seneng gratisan dan diskonan. dengan kebiasaan seneng diskon dan gratisan, lha koq iya os gratis tidak populer?

artikel lenyapkapok nulis? nggak juga. mau merubah gaya tulisan agar bisa diterima dan populer di pasar kompasiana? jika menghasilkan income per capita sih nda papa. lha ini bener-bener prinsip dari rakyat untuk rakyat jhe. ngapain?

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , | Leave a comment

tentang Dusit Mangga Dua

Awal bulan Agustus silam simbah mengeluh laptop beliau tidak bisa terhubung ke jaringan di rumah. Cek sana cek sini cek situ, aku putuskan untuk membeli sebuah adapter wireless network karena adapter internal laptop sepertinya bermasalah. Cek harga secara online, antara 60 s.d. 80 ribu rupiah harganya.

Setelah selancar sana selancar sini, tetiba aku memutuskan untuk memancal motor ke pusat perkulakan komputer tersohor di Indonesia, Mangga Dua. Itung-itung melemaskan otot kaki dan tangan, mosok gegara biasa belanja ke toko daring jadi jarang mengunjungi toko aseli, pikirku.

Sampai di sana, aku langsung menuju kompleks pertokoan Dusit, itu lho yang sekarang jadi Le Grandeur. Sebuah tempat yang mewarnai tahun-tahun awal kisah ku sebagai abdi masyarakat di Jakarta.

Waktu itu, untuk mencari tambahan yang halal, aku sering berbelanja pernik-pernik kebutuhan komputer dan perangkat jaringan sampai dengan merakit komputer utuh berdasar pesanan tetangga atau teman atau relasi. Dusit Mangga Dua, seingatku, adalah jajaran toko demi toko di sebuah gedung empat lantai yang selalu penuh sesak oleh kerumunan orang. Maka, siang itu sungguh terkejut melihat suasana yang lain. Lapang, lega, tak banyak seliweran orang. Selasar yang menghubungkan Dusit Mangga Dua dan Mall Mangga Dua pun juga kosong melompong. Di lorong itu, seingatku, aku beberapa kali membeli kartu perdana dengan harga murah meriah. Sekarang hanya pak Satpam yang mondar-mandir disitu.

Sebuah majalah komputer mengulas secara dalam tentang sepinya Dusit. Rasanya aku tak perlu mengulas lebih dalam lagi, karena titik dan bulir air ini sepertinya akan segera lepas dari tahanan  kerut ujung mata jika mengingat masa ketika dari hasil keliling toko-toko inilah tambahan seratus atau dua ratus ribu rupiah per bulan cukup untuk menutup defisit anggaran bujangan PNS golongan rendahan masa pengabdian 0-4 tahun. Tentunya bukan keliling-keliling aparat negara laen lho ya, yang biasanya sebulan sekali dapet setoran dari arisan toko di kompleks pusat penjualan komputer ini (kisah ini dari bendahara kantor sebuah sektor di pinggiran Jakarta).

Sudah 2015 rupanya. Telepon genggam yang kukantongi ini juga ternyata punya memori 2GB, delapan¬†kali lipat dari memori yang terpasang di komputer butut pertamaku dulu di tahun 2005….

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , , , | Leave a comment

tentang Road Rash

Alkisah di suatu hari di negeri ini, dua mobil salip-salipan, sebut saja si merah dan si putih. saking serunya,entah pada titik yang mana,  akhirnya sopir si merah muntab, ia  mengeluarkan pestol bertenaga angin ber mimis alumunium nya. cekrek, tash, cetarrr (atau blush, prak, yang jelas gak terlalu jederr), jendela si putih bolong. kebetulan di dalem si putih ada istri dan 2 anak sopir. kebetulan si merah sopirnya muda dan sendirian. lalu sopir si putih curahkan perasaan ke jaringan sosial,dan kisah dua mobil ini pun diliput media massa berkaliber nasional. lha ndilalahnya dua mobil ini lagi jalan di jalan tol nya ibukota negara jhe, jadi ya beritanya cepat tersebar luas merata seperti cita-cita pembangunan nasional.

saya sendiri pun pernah beberapa kali dalam posisi emosionil semacam sopir merah dan putih. bedanya ya saya sedang memegang stang bronpit. kadang sampe geber-geberan, kepet-kepetan, gara-gara entah mobil entah motor entah bis koq sepertinya seneng sruntal sruntul belak belok sakpenake semacam ayam jago yang lagi kasmaran kejar-kejaran sama babonnya. konyolnya kalo kadang di dialog i, mereka jawabnya seperti musyawarah mufakat : lha mana, anda kan belum ketabrak. manna, anda gak kesrempet. maannnaa, anda kan ndhak jatuh kesungkur.

trus jadi akhirnya capek sendiri, senyum kecut pribadi. beberapa kali juga ditegor, didhem-dhem oleh sesama motorers ‘pak, udah biarin aja dia. wong edan jangan diladeni’.

imajinasi liar sempat mencuat. andainya bronpit saya bisa seperti Street Hawk. Njumping, kalo dibleyer  langsung standing dan bisa lari kenceng, dan last bet not list, punya   mitralliur bisa menembak ke sasaran dengan sangkil dan mangkus. paling tidak kalo senjata api abis pluru ya masih bisa pede tendang-tendangan kayak game jadul jaman dos Road Rash itu.

tapi kan saya bukan Kotaro Minami ….

sumber inspirasi:

kisah 1

kisah 2

Posted in otjehan sagala matjem | Tagged , | Leave a comment

tentang TOA masjid, Jusuf Kalla, dan Umar Kayam

Bulan Ramadhan 1436H telah terlampaui. Bagi sebagian rakyat Indonesia yang kebetulan bermukim di kawasan DKI Jakarta pastinya juga merasakan getaran-getaran di rumah/kost/kontrakan berkurang secara signifikan setelah speaker dan atau penabuh drum dini hari tak lagi mewarnai malam hari.
Nah, mari kita satroni kembali polemik komentar Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengenai polusi suara yang diakibatkan penggunaan pelantang suara yang berlebihan di langgar/musholla/masjid terutama di kota-kota besar di Indonesia.

beberapa cuplikan berita:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/10/npnr9a-ustaz-yusuf-mansur-minta-maaf-kalau-suara-kaset-masjid-mengganggu

http://www.republika.co.id/berita/video/bincang-tokoh/15/07/28/ns70a1216-jk-saya-tidak-pernah-melarang-speaker-di-masjid-1

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150609103800-20-58690/hasyim-muzadi-jangan-persoalkan-rekaman-tapi-speaker-masjid/

Saya tidak akan mengulas tentang kebisingan speaker atau TOA, baik yang menyalurkan suara asli maupun suara rekaman. Silahkan simak alinea terakhir dari kolom Umar Kayam tahun 1991

Dan dengan cekatan ia lari ke belakang. Di teras depan sambil menghirup hawa, saya mendengar azan memanggil orang bersembahyang Isya dan Tarawih. Suara itu lamat-lamat mungkin dari mesjid di seberang kali. Justru karena lamat-lamat itu kedengarannya begitu damai dan khusyuk.

Kalimat terakhir, begitu hakdes.. tepat di jantung atau ulu hati lah pokoknya…

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment

Titil-titil Syndrome (Umar Kayam,1992)

Sedianya kolom Umar Kayam ini hendak saya salin ke blog yang khusus menjadi tempat arsip cerpen semacam. Namun melihat headline Kompas online hari ini, saya jadi tergelitik untuk membaginya ke blog. Monggo disemak para sedhulur….

headline Kompas online 30 Juli 2015

Budaya Titil-titil Atawa The Titil-titil Syndrome

Tempoh hari, sore-sore waktu saya sedang menikmati lincak yang baru karena lincak paringan Romo Mangunwijaya sudah betul-betul game. Mister Rigen yang sedang berlari-lari di belakang ToloTolo sembari berteriak: hak-hak-haak dan menyangga piring nasi-sop, begitu saja stop di depan saya.

Saya tertawa melihat bolehnya dirjen saya itu mak stop secara tiba-tiba. Napasnya terengah-engah, sop di piring di tangan kanan, krah baju Tolo-Tolo di tangan kiri. ‚Äě

“Sop di tangan kananmu, krah hem di tangan kirimu . . . .”

Sambil terengah-engah, tapi mringis, Mister Rigen anyel menanggapi nyanyian saya itu.

“Ayak, Bapak. Menyanyi saja lagu yang kuno . . .”

“Elho! Ning rak masih relevan to buat kamu?”

“Ah, mboten ngertos, Pak. Bapak sukanya pake kata-kata asing kalau sedang anyel atau kepepet
sama wong cilik. Bapak kok ternyata sami mamon dengan ngintelek sing sok-sok itu.”

Saya jadi tertawa cekakakan. Sementara itu saya lirik, saya lihat Beni Prakosa titil-titil daging sop dari piring adiknya. Matanya yang besar-besar itu kelihatan badung sinarnya.

“Pak, iwaktu, Paak, iwaktu dititil Beni, Paak.”

Dengan cepat bapaknya memukul tangan Beni tapi luput. Bedhes yang besar lari sembari meng-iwi-iwi.

“Hora kena. Hora keno, Paak.”

“Awas kowe, awas koive.”

“Hualah, Geen, Gen. Kok bolehnya kamu sewot sama anak. Mbok biar. Kayak kamu tidak pernah mencuri, nguriki lauk adikmu waktu kecil.”

Mister Rigen tertawa nggleges. Mungkin ingat kelakuannya waktu masih kecil.

“Iya apa nggak, Gen? lya apa nggak?”

“Heh-heh-heh. Kayaknya adik di seluruh ndonya itu harus diuriki, dicolong imak-nya, nggih?’

“Ha iya! Taunya mengaku.”

“Tapi rak kulo mandek sak nitil tempe adik-adik kulo. Teman saya yang mengganti carik clan lurah bapak-bapak mereka itu terus saja melanjutkan ngelmu titil-titil-nya itu, Pak.”

“Ayak, kamu itu. Betul apa?”

“Ayak, ganti saya yang ayak sekarang. Bapak itu gaharu cendana pula. Sudah tahu ethok-ethok lupaa. Wong Bapak sendiri yang ngendika di pengukuhan Bapak jadi propesor begitu, Iho. Katanya, korkat, korupsi melekat.”

“lyo, iyo, Gen. Terus, terus, terus?”

“Lha ya itu, Pak. Sesudah mereka jadi perangkat desa, lha budaya titil-titil kok diteruskan. KUD dititili, ongkos balik tanah dititili, uang sangu transmigrasi dititili, pokoke kabeh dititili. Lha, itu kalau naik, naik terus pangkatnya sampai dhuwur banget di Jakarta titilane mestinya rak semangkin besar to, Pak.”

“Hus, hus, jangan galak-galak banget begitu kamu, Gen. Orang itu rak ada kenyangnya to, Gen. Ibaratnya anakmu Beni itu titil-titil kalau sudah cukup rok ya kenyang terus berhenti titil-titil daging adiknya.”

“Beni? Berhenti titil-titil? Wo, jeneh keajaiban dunia.”

“Sudah kita sekolahkan di SD Indonesia Hebat dengan kurikulum dahsyat itu? Masih mau titil-titi!?”

“Lha, yang titil-titil malah membrakoti empal dan balung negoro itu kurang sekolah tinggi apa to, Pak. Rak inggih tinggi-tinggi semua to, Pak. Saya kok semangkin khawatir budaya titil-titil itu tidak bakalan sembuh. Wong itu sudah budaya kita kok, Pak.”

“Geen, Gen. Mbok kamu itu jangan pesimistis-pesimistis begitu, to. Itu sama saja dengan bilang kamu itu juga tidak bakalan sembuh bolehmu titil-titil.”

“Lha, tergantung dari kesempatan to, Pak.”

“Elho, kalo begitu kamu memang titil-tifil di rumah ini. Wong kesempatan itu tak kasih lebar-lebar. Lemari pakaian saya saja tidak pernah saya tutup apalagi dikunci. Dapur ngablok-ablak, terbuka lebar. Lemari es mbok es prongkol saya sak termos kamu brokoti sak anak-bojo masih berlebih.”

“Huahaak, Bapak. Lemari pakaian terbuka dan tidak pernah dikunci ning isinya baju gantung-kepuh. Sore dicuci, malam digarang api, paginya diseterika, dipake ke kantor. Dapur isinya tempe sama jangan kangkung. Hanya kalo ada honor lewat masak sop seperti hari ini. Lemari es ya betul Bapak, pabrik es prongkol sampai gigi mrotoli semua.”

Asem kecut, trembelane tenan. Dirjen saya kok jadi sewot, nyrempet-nyempet meng-ina, lho. Apakah dia sebagai jubir wong cilik sudah begitu sampai di leher eneg-nya sama kami para pemimpin? Saya jadi ingat para anggota DPR dan MPR yang baru dilantik dan sebentar lagi akan bersidang membicarakan hal-hal yang gawat-gawat. Apakah mereka akan join the titil-titil class? But what kinds of things could the titil-titil on? Apakah yang di eksekutif saja yang bisa titil-titil? Saya kok jadi ingat sahabat saya Mister Ngalmus alias Mister Almost, yang pada bulan-bulan begini akan mampir ke rumah untuk: minta tolong dilobikan. Dan, eh, seperti ada yang mengingatkan tiba-tiba Mister Rigen menyela.

“Pak, Pak. Pak Ngalmus itu kok belum muncul lagi di sini?”

“Elho, memangnya harus muncul disini, Gen?”

“Lho, biasanya kalo sudah anget pilihan kabinet beliau itu mak jedul, muncul.”

“Belum, Gen. Kalo targetnya kabinet, dia mulai dekat-dekat Desember begitu. Sabar saja nanti rak muncul.”

“Wah, lha ya tinggal sebentar begitu. Wah, kalo beliau itu bisa kepilih jadi menteri kali ini, apa beliau akan juga titil-titil7”

“Lha, menurut wawasanmu bagaimana?”

“Kalo menurut katuranggan dan ngiman supingi-nya, beliau itu, beliau itu yah, yah . . . kayaknya sama saja. Akan titil-titil.”

“Oh, dapurmu Geen, Gen . . . .”

Di kamar, sebelum tidur mukaku tertumbuk pada kaca hias. Sekilas nampak wajahku di remang-remang cahaya kamar. Oh katuranggon, oh, ngiman supingi. Saya lihat mukaku meringis ….

20 Oktober 1992

Posted in otjehan sagala matjem | Leave a comment