Kebonharjo

Berita mengenai sebuah kawasan bernama Kebonharjo di harian Suara Merdeka membuatku tersedak pagi ini. Beberapa malam yang lalu, aku dan sigaraning nyawaku berbincang sinambi nglaras, mengenai berbagai hal, salah satunya tentang Semarang. Aku memang menyimpan hasrat untuk bisa mengabdi pada masyarakat Semarang, kota yang membesarkan aku dan keluargaku. Dalam perbincangan itu, aku teringat betapa sulit mengingat-ingat perubahan2 apa saja yang terjadi di Semarang. Terutama Ngesrep dan Tembalang, yang tiap kali aku pulang beberapa waktu lalu, selalu saja memberikan kesan aneh: warung dan toko, ruko dan lesehan di sepanjang gang lima (dulu terkenal dengan sebutan gang Kelurahan) telah membuat tabir yang menghancurkan bayang2 masa kecilku. Toko kelontong dan bengkel milik Papae dan Cik (tu kan, aku lupa nama beliau) telah berubah menjadi minimarket atau warnet atau (aku tak tau apalagi yang ada disitu). Satu demi satu rumah tetanggaku kini berubah menjadi rumah2 kos. Jalan yang kini semarak dengan motor dan mobil. Padahal, kenanganku disini belum berlalu tiga dekade.

Oh ya, mengenai Kebonharjo. Aku jadi teringat dengan saudara2 ku yang tinggal disitu, yang setiap tahun harus meninggikan lantai rumahnya, berlomba2 dengan ketinggian jalan dan ketinggian air rob. Juga jalan Mpu Tantular, yang setiap sore terendam air laut sampai10-20cm. Kebetulan pabrik tempat Bapak bekerja berlokasi disitu, jadi aku sudah hapal dengan kondisi ini. Pabrik2 itu, ah, entah sudah berapa yang direlokasi, bangkrut, dan semacamnya.
Aku jadi bertanya2, mungkinkah para pengabdi masyarakat di Semarang juga bertanya2 seperti aku? Apakah keresahan ini juga keresahan yang mereka rasakan? Bagaimana dengan para perancang tata ruang dan tata wilayah di Semarang?

Yang aku catat, selain perubahan yang begitu cepat (pusat perbelanjaan sepertinya yang paling cepat tumbuh), ada sebuah lokasi lain yang sepertinya terkena efek lompatan quantum. Terhenti dalam waktunya sendiri, tidak terkejar oleh ruang dan waktu disekitarnya. Bahkan batu dan kayu yang ada disitu, masih berbau dan berbentuk sama seperti situasi di penghujung 1994. Enambelas tahun silam !!

Namanya Jalan (jembatan) Bangunharjo ( masih seirama dengan Kebonharjo hehehe), dan ternyata bisa dilihat dari Google Map bahwa didekat jembatan ini, ada sebuah jalan yang putus sebelum menyeberangi Banjirkanal Timur. Meskipun foto di Google Map ini bukan yang paling update, tapi memang seingaktu setahun yang silam jalan ini juga masih belum tersambung. Ataukah sudah?
Hmmm, entahlah… (bersambung)

This entry was posted in otjehan sagala matjem and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s