Serba serbi akhir pekan

Di suatu hari Minggu siang, aku sekeluarga berkunjung ke ITC Cempaka Mas, Jakarta Timur. Seusai gagal mencari biskuit teething rusk, kami bermaksud membayar belanjaan ketika tiba-tiba putri pertamaku (2th) menangis menggebu-gebu meminta bermain di jumping castle. Ini adalah sebuah wahana permainan dari karet berisi udara bertekanan berbentuk kastil dua lantai. Aku dan istriku sepakat untuk tidak mengijinkan putri kami untuk bermain disitu, sebab pada kesempatan terdahulu kami melihat bahwa di jumping castle ini tidak ada pemisahan anak berdasar umur dan berat. Tidak ada pengawasan, sehingga anak yang bertubuh mungil (seperti anakku) dengan mudahnya tergencet oleh anak-anak bertubuh besar dan berusia jauh diatasnya. Menurutku, seharusnya pengelola wahana jumping castle ini menaruh satu lagi wahana serupa agar bisa memisahkan anak sesuai umur dan besar-kecil tubuh mereka.

Kurangnya wahana permainan untuk anak yang memadai dan padatnya pengunjung (terutama diwaktu liburan) mungkin juga terjadi di pusat perbelanjaan lain di Jakarta (atau seluruh Indonesia, atau seluruh dunia sekalipun). Namun, ITC Cempaka Mas ini memiliki keunikan yang jarang kujumpai di pusat perbelanjaan lain (bahkan yang berada dibawah satu manajemen – PT Duta Pertiwi Tbk). ITC yang satu ini memiliki beberapa taxi pool – terpisah berdasarkan perusahaan taxi. Selanjutnya, bajaj juga ditata rapi berikut petunjuk kepada pengunjung mengenai keberadaan bajaj di lingkungan ITC.

Kelebihan yang menurutku paling menonjol dari ITC Cempaka Mas adalah penyediaan masjid yang besar dan dikelola dengan professional. Betapa tidak, masjid Al-Mutaqqin ini menempati lahan yang kuperkirakan bisa dimuati satu lantai Matahari atau Superindo atau Ramayana. Ruang shalat yang nyaman dan luas mungkin sudah biasa, tapi yang kukagumi adalah toilet masjid ini. Sebagai orang muslim tentu kita harus tahu masalah najis, dan toilet jelas adalah singgasananya najis. Nah, pengelolaan masjid yang professional dapat dilihat dari dua hal yang kutemui disini. Pertama adalah, lantai toilet secara rutin diguyur dengan air. Bahkan seringkali kutemui bahwa sebuah selang air sengaja dibiarkan tergeletak mengucurkan air yang mengaliri lantai. Mungkin bagi orang yang tidak faham akan menggerutu karena seperti membuang-buang air saja. Tetapi, justru air yang mengalir ini yang membantu menghilangkan najis dari lantai toilet. Yang kedua, urinoir di toilet laki-laki diberi pembatas setinggi paha, menjaga agar air kencing tidak menciprat ke celana yang bisa berakibat batalnya tidak syah-nya sholat. Tentu saja tidak sempurna sih, karena pembatas ini masih agak pendek yang tentunya menyulitkan orang yang berbadan tinggi. tapi tentunya bisa aja kan buang air kecil di wc nya hehehe.

Sangat amat jarang sekali (maaf, pak JS Badudu) kutemui masjid yang dikelola semacam ini. Tentunya, masjid Al-Mutaqqin ini bisa jadi rujukan bahwa jangan hanya memikirkan bentuk dan kemegahan bangunan masjidnya saja, sementara hal yang vital (i.e. masalah najis) kadangkala disepelekan.Ehm, bahkan ada lho pusat perbelanjaan yang masih dalam satu manajemen namun tidak menyediakan tempat sholat hehehe.

This entry was posted in misc., otjehan sagala matjem and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Serba serbi akhir pekan

  1. Terkuaknya sisi bapak seorang admin. Hehehe.
    Utk air mengalir pembersih najis ini malah banyak yang menghindari, pake jalan jinjit. Atau kalau dibuat spt kolam,
    malah dipencoloti. (berasal dari kata dasar colot)….

  2. masliliks says:

    kalo ndak dipencoloti ya diplipiraken – nada dasar mlipir 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s