Tentang Perang, Film Perang, dan Peng-engkau-an

Memang selalu ada dua sisi dari sesuatu. Kali ini pada film tentang perang, menyaksikan film tentang perang, dan pengarahan terhadap perang.
Menyaksikan film perang, pada satu sisi membentuk sikap hidup yang mendua pada perang itu sendiri. Sikap pertama adalah “memuliakan” perang. Sikap kedua adalah “menghinakan” atau “menistakan” perang.

Pemuliaan perang timbul dari pandangan bahwa perang itu perlu, dan adil. Perdamaian adalah jeda di antara dua keadaan perang. Maka pembenaran demi pembenaran pun timbul terhadap penyelenggaraan perang.

√Penistaan perang adalah sikap yang berkebalikan dari pemuliaan perang; perang pada dasarnya menghancurkan – menihilkan, tidak sesuai dengan tugas dan fungsi manusia sebagai penjaga kelangsungan hidup di bumi ini.

Film atau tayangan tentang perang sendiri, ada dua jenis pula (dan ada jenis yang hybrid): film yang memuliakan perang, dan film yang menistakan perang.

Lalu, apa hubungannya dengan peng-engkau-an? Menurut saya, seruan yang akhir-akhir ini semakin marak di Indonesia adalah salah satu bentuk pembenaran terhadap adanya Perang di tanah air. Mengapa? Jika diperhatikan, jargon-jargon yang digunakan adalah selalu membenturkan antar golongan umat ber agama – Islam dengan Non-Islam, Sunni vs Syiah, memberikan contoh-contoh tayangan tentang kekerasan terhadap  Islam/Sunni/Syiah di negara-negara luar Indonesia, dan semacamnya. Jika nantinya darah tertumpah,seperti yang pernah terjadi (atau masih?) di periode 1999-2000, maka semua itu jadi syah belaka. Demi apa? saya pun tak pernah yakin dengan apa yang diyakini mereka yang pernah atau sedang meng-engkau-kan golongan lain sedemikian rupa sehingga merasa bahwa perang dan pertumpahan darah itu layak dan perlu.

Tulisan ini tidak  dimaksudkan untuk memakai teori-teori dan atau memuat pranala-pranala baik yang mendukung maupun yang menentang peng-engkau-an dan menentang atau mendukung propaganda perang. Sudah cukup lelah rasanya melihat linimasa di salah satu akun ku yang dipenuhi celotehan sahabat-sahabat ku tentang syiah atau sunni atau sanny atau sanna atau sono yang keji/kejam/takbermoral/halaldarahnya bla bla bla. cukuplah, ndak usah ditulis di sini.

Oya, untuk disclaimer: penulis memang gemar membaca/memirsa/mendengar/menelaah tentang perang dan alat perang, namun menjaga kesadaran bahwa perang hanyalah bentuk negosiasi yang gagal dan berkonsekuensi mengakhiri dengan paksa sebuah bentuk kehidupan.

Untuk membuka cakrawala, silahken menonton film bermuatan perang semacam Midnight’s Children atau War Horse, serta In the Land of Blood and Honey. Kalau seusai nonton 3 film tadi anda masih bilang bahwa membunuh dalam perang itu enak dan perlu,ya terserah deh 😀

This entry was posted in otjehan sagala matjem and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s