tentang Demak dan Jepara

Salah satu perjalanan menumpang bis antar kota semasa kecil yang masih membekas kuat dalam benak saya adalah tatkala mengunjungi rumah pakdhe (paman), kakak dari ibu, yang tinggal di sebuah desa nelayan di kota Rembang. Perjalanan dari Semarang menuju Rembang ditempuh sekitar tiga atau empat jam dengan rute pantai utara , melalui kota-kota yang selalu saya hapalkan yaitu Demak-Kudus-Pati-Rembang. Di tengah perjalanan Demak- Kudus ada persimpangan menuju Jepara. Kisah tentang desa nelayan tepi pantai di Rembang mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Sekarang saya ingin bercerita tentang sedikit senggolan kenangan saya dengan sejarah bangsa Indonesia.

Demak bagi orang Semarang era 1980an (termasuk saia :D) adalah backwater, keterbelakangan, ndeso, ndesit. Saya tidak heran dengan pemandangan sepanjang jalan yang melalui parit (atau sungai) yang penuh dengan orang yang mandi dan mencuci baju. Yaaa itu, ndesit pikir saya. Kok mau-maunya mandi sambil ncuci dan ada juga yang buang hajat di kaskus pinggir kali seperti itu. Apalagi air parit/sungai itu seringkali berwarna hijau dan kadang kala keruh.

Sedikit menyelip ke selubung warp generator, saya tersentak ketika membaca lembar demi lembar kisah-kisah penyerbuan Adipati Unus, raja Kesultanan Demak ke-2 , ke Port Malaka – semenanjung Melayu alias Malaysia sekarang. Jaman akhir 1980an atau awal 1990an saya belum kenal pakdhe google, maka saya hanya bisa memandangi atlas di dinding sekolahan sambil mengira-ngira dengan jengkal tangan, apa ya benar orang-orang ndesit bin ndeso yang mandi dan mencuci masih di kali (jawa:sungai) itu adalah keturunan yang sama dari prajurit-prajurit dengan kapal yang menerjang menggempur benteng Portugis? Padahal dalam cerita-cerita ketoprak digambarkan bahwa prajurit Metaram, Demak, Pajang, Jipang, itu ya  saktinya jika pakai tombak atau keris. Sementara setahu saya, bangsa Eropa sudah pake senapan api dan meriam. Apakah bisa menyerbu dua kali ke Malaka dengan keris? Sebelum mendarat, dalam bayangan saya, pasti prau-prau Demak sudah hancur lebur disergap kanon Portugis. Tapi nyatanya malah dua kali Demak menyerang, dan di belakang hari saya juga baru tahu bahwa Jepara juga menyerang Malaka saat dipimpin oleh seorang Ratu.

Kesimpulan sementara saya waktu itu adalah, VOC dan kemudian Pemerintahan Kolonial Belanda lah yang memporak porandakan kedigdayaan maritim di seputar pantai utara Jawa termasuk Demak dan Jepara. Faktor lain adalah kegagalan penyerangan Mataram ke Batavia yang berujung pada lepasnya daerah pesisir utara Jawa dari kekuasaan Mataram. Mataram pun semakin menarik diri ke pedalaman, dan sampai sekarang ini sisa-sisa pejuang laut sudah semakin jauh dari sanubari cucu cicit keturunan prajurit-prajurit masa silam.

This entry was posted in otjehan sagala matjem. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s