tentang TOA masjid, Jusuf Kalla, dan Umar Kayam

Bulan Ramadhan 1436H telah terlampaui. Bagi sebagian rakyat Indonesia yang kebetulan bermukim di kawasan DKI Jakarta pastinya juga merasakan getaran-getaran di rumah/kost/kontrakan berkurang secara signifikan setelah speaker dan atau penabuh drum dini hari tak lagi mewarnai malam hari.
Nah, mari kita satroni kembali polemik komentar Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengenai polusi suara yang diakibatkan penggunaan pelantang suara yang berlebihan di langgar/musholla/masjid terutama di kota-kota besar di Indonesia.

beberapa cuplikan berita:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/10/npnr9a-ustaz-yusuf-mansur-minta-maaf-kalau-suara-kaset-masjid-mengganggu

http://www.republika.co.id/berita/video/bincang-tokoh/15/07/28/ns70a1216-jk-saya-tidak-pernah-melarang-speaker-di-masjid-1

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150609103800-20-58690/hasyim-muzadi-jangan-persoalkan-rekaman-tapi-speaker-masjid/

Saya tidak akan mengulas tentang kebisingan speaker atau TOA, baik yang menyalurkan suara asli maupun suara rekaman. Silahkan simak alinea terakhir dari kolom Umar Kayam tahun 1991

Dan dengan cekatan ia lari ke belakang. Di teras depan sambil menghirup hawa, saya mendengar azan memanggil orang bersembahyang Isya dan Tarawih. Suara itu lamat-lamat mungkin dari mesjid di seberang kali. Justru karena lamat-lamat itu kedengarannya begitu damai dan khusyuk.

Kalimat terakhir, begitu hakdes.. tepat di jantung atau ulu hati lah pokoknya…

This entry was posted in otjehan sagala matjem. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s