Titil-titil Syndrome (Umar Kayam,1992)

Sedianya kolom Umar Kayam ini hendak saya salin ke blog yang khusus menjadi tempat arsip cerpen semacam. Namun melihat headline Kompas online hari ini, saya jadi tergelitik untuk membaginya ke blog. Monggo disemak para sedhulur….

headline Kompas online 30 Juli 2015

Budaya Titil-titil Atawa The Titil-titil Syndrome

Tempoh hari, sore-sore waktu saya sedang menikmati lincak yang baru karena lincak paringan Romo Mangunwijaya sudah betul-betul game. Mister Rigen yang sedang berlari-lari di belakang ToloTolo sembari berteriak: hak-hak-haak dan menyangga piring nasi-sop, begitu saja stop di depan saya.

Saya tertawa melihat bolehnya dirjen saya itu mak stop secara tiba-tiba. Napasnya terengah-engah, sop di piring di tangan kanan, krah baju Tolo-Tolo di tangan kiri. „

“Sop di tangan kananmu, krah hem di tangan kirimu . . . .”

Sambil terengah-engah, tapi mringis, Mister Rigen anyel menanggapi nyanyian saya itu.

“Ayak, Bapak. Menyanyi saja lagu yang kuno . . .”

“Elho! Ning rak masih relevan to buat kamu?”

“Ah, mboten ngertos, Pak. Bapak sukanya pake kata-kata asing kalau sedang anyel atau kepepet
sama wong cilik. Bapak kok ternyata sami mamon dengan ngintelek sing sok-sok itu.”

Saya jadi tertawa cekakakan. Sementara itu saya lirik, saya lihat Beni Prakosa titil-titil daging sop dari piring adiknya. Matanya yang besar-besar itu kelihatan badung sinarnya.

“Pak, iwaktu, Paak, iwaktu dititil Beni, Paak.”

Dengan cepat bapaknya memukul tangan Beni tapi luput. Bedhes yang besar lari sembari meng-iwi-iwi.

“Hora kena. Hora keno, Paak.”

“Awas kowe, awas koive.”

“Hualah, Geen, Gen. Kok bolehnya kamu sewot sama anak. Mbok biar. Kayak kamu tidak pernah mencuri, nguriki lauk adikmu waktu kecil.”

Mister Rigen tertawa nggleges. Mungkin ingat kelakuannya waktu masih kecil.

“Iya apa nggak, Gen? lya apa nggak?”

“Heh-heh-heh. Kayaknya adik di seluruh ndonya itu harus diuriki, dicolong imak-nya, nggih?’

“Ha iya! Taunya mengaku.”

“Tapi rak kulo mandek sak nitil tempe adik-adik kulo. Teman saya yang mengganti carik clan lurah bapak-bapak mereka itu terus saja melanjutkan ngelmu titil-titil-nya itu, Pak.”

“Ayak, kamu itu. Betul apa?”

“Ayak, ganti saya yang ayak sekarang. Bapak itu gaharu cendana pula. Sudah tahu ethok-ethok lupaa. Wong Bapak sendiri yang ngendika di pengukuhan Bapak jadi propesor begitu, Iho. Katanya, korkat, korupsi melekat.”

“lyo, iyo, Gen. Terus, terus, terus?”

“Lha ya itu, Pak. Sesudah mereka jadi perangkat desa, lha budaya titil-titil kok diteruskan. KUD dititili, ongkos balik tanah dititili, uang sangu transmigrasi dititili, pokoke kabeh dititili. Lha, itu kalau naik, naik terus pangkatnya sampai dhuwur banget di Jakarta titilane mestinya rak semangkin besar to, Pak.”

“Hus, hus, jangan galak-galak banget begitu kamu, Gen. Orang itu rak ada kenyangnya to, Gen. Ibaratnya anakmu Beni itu titil-titil kalau sudah cukup rok ya kenyang terus berhenti titil-titil daging adiknya.”

“Beni? Berhenti titil-titil? Wo, jeneh keajaiban dunia.”

“Sudah kita sekolahkan di SD Indonesia Hebat dengan kurikulum dahsyat itu? Masih mau titil-titi!?”

“Lha, yang titil-titil malah membrakoti empal dan balung negoro itu kurang sekolah tinggi apa to, Pak. Rak inggih tinggi-tinggi semua to, Pak. Saya kok semangkin khawatir budaya titil-titil itu tidak bakalan sembuh. Wong itu sudah budaya kita kok, Pak.”

“Geen, Gen. Mbok kamu itu jangan pesimistis-pesimistis begitu, to. Itu sama saja dengan bilang kamu itu juga tidak bakalan sembuh bolehmu titil-titil.”

“Lha, tergantung dari kesempatan to, Pak.”

“Elho, kalo begitu kamu memang titil-tifil di rumah ini. Wong kesempatan itu tak kasih lebar-lebar. Lemari pakaian saya saja tidak pernah saya tutup apalagi dikunci. Dapur ngablok-ablak, terbuka lebar. Lemari es mbok es prongkol saya sak termos kamu brokoti sak anak-bojo masih berlebih.”

“Huahaak, Bapak. Lemari pakaian terbuka dan tidak pernah dikunci ning isinya baju gantung-kepuh. Sore dicuci, malam digarang api, paginya diseterika, dipake ke kantor. Dapur isinya tempe sama jangan kangkung. Hanya kalo ada honor lewat masak sop seperti hari ini. Lemari es ya betul Bapak, pabrik es prongkol sampai gigi mrotoli semua.”

Asem kecut, trembelane tenan. Dirjen saya kok jadi sewot, nyrempet-nyempet meng-ina, lho. Apakah dia sebagai jubir wong cilik sudah begitu sampai di leher eneg-nya sama kami para pemimpin? Saya jadi ingat para anggota DPR dan MPR yang baru dilantik dan sebentar lagi akan bersidang membicarakan hal-hal yang gawat-gawat. Apakah mereka akan join the titil-titil class? But what kinds of things could the titil-titil on? Apakah yang di eksekutif saja yang bisa titil-titil? Saya kok jadi ingat sahabat saya Mister Ngalmus alias Mister Almost, yang pada bulan-bulan begini akan mampir ke rumah untuk: minta tolong dilobikan. Dan, eh, seperti ada yang mengingatkan tiba-tiba Mister Rigen menyela.

“Pak, Pak. Pak Ngalmus itu kok belum muncul lagi di sini?”

“Elho, memangnya harus muncul disini, Gen?”

“Lho, biasanya kalo sudah anget pilihan kabinet beliau itu mak jedul, muncul.”

“Belum, Gen. Kalo targetnya kabinet, dia mulai dekat-dekat Desember begitu. Sabar saja nanti rak muncul.”

“Wah, lha ya tinggal sebentar begitu. Wah, kalo beliau itu bisa kepilih jadi menteri kali ini, apa beliau akan juga titil-titil7”

“Lha, menurut wawasanmu bagaimana?”

“Kalo menurut katuranggan dan ngiman supingi-nya, beliau itu, beliau itu yah, yah . . . kayaknya sama saja. Akan titil-titil.”

“Oh, dapurmu Geen, Gen . . . .”

Di kamar, sebelum tidur mukaku tertumbuk pada kaca hias. Sekilas nampak wajahku di remang-remang cahaya kamar. Oh katuranggon, oh, ngiman supingi. Saya lihat mukaku meringis ….

20 Oktober 1992

This entry was posted in otjehan sagala matjem. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s