tentang Dusit Mangga Dua

Awal bulan Agustus silam simbah mengeluh laptop beliau tidak bisa terhubung ke jaringan di rumah. Cek sana cek sini cek situ, aku putuskan untuk membeli sebuah adapter wireless network karena adapter internal laptop sepertinya bermasalah. Cek harga secara online, antara 60 s.d. 80 ribu rupiah harganya.

Setelah selancar sana selancar sini, tetiba aku memutuskan untuk memancal motor ke pusat perkulakan komputer tersohor di Indonesia, Mangga Dua. Itung-itung melemaskan otot kaki dan tangan, mosok gegara biasa belanja ke toko daring jadi jarang mengunjungi toko aseli, pikirku.

Sampai di sana, aku langsung menuju kompleks pertokoan Dusit, itu lho yang sekarang jadi Le Grandeur. Sebuah tempat yang mewarnai tahun-tahun awal kisah ku sebagai abdi masyarakat di Jakarta.

Waktu itu, untuk mencari tambahan yang halal, aku sering berbelanja pernik-pernik kebutuhan komputer dan perangkat jaringan sampai dengan merakit komputer utuh berdasar pesanan tetangga atau teman atau relasi. Dusit Mangga Dua, seingatku, adalah jajaran toko demi toko di sebuah gedung empat lantai yang selalu penuh sesak oleh kerumunan orang. Maka, siang itu sungguh terkejut melihat suasana yang lain. Lapang, lega, tak banyak seliweran orang. Selasar yang menghubungkan Dusit Mangga Dua dan Mall Mangga Dua pun juga kosong melompong. Di lorong itu, seingatku, aku beberapa kali membeli kartu perdana dengan harga murah meriah. Sekarang hanya pak Satpam yang mondar-mandir disitu.

Sebuah majalah komputer mengulas secara dalam tentang sepinya Dusit. Rasanya aku tak perlu mengulas lebih dalam lagi, karena titik dan bulir air ini sepertinya akan segera lepas dari tahanan  kerut ujung mata jika mengingat masa ketika dari hasil keliling toko-toko inilah tambahan seratus atau dua ratus ribu rupiah per bulan cukup untuk menutup defisit anggaran bujangan PNS golongan rendahan masa pengabdian 0-4 tahun. Tentunya bukan keliling-keliling aparat negara laen lho ya, yang biasanya sebulan sekali dapet setoran dari arisan toko di kompleks pusat penjualan komputer ini (kisah ini dari bendahara kantor sebuah sektor di pinggiran Jakarta).

Sudah 2015 rupanya. Telepon genggam yang kukantongi ini juga ternyata punya memori 2GB, delapan kali lipat dari memori yang terpasang di komputer butut pertamaku dulu di tahun 2005….

This entry was posted in otjehan sagala matjem and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s