tentang e-Ojek dan e-Omprengan

e-Ojek tentu saja merujuk kepada skema semacam Go-jek atau Grabbike, sementara e-Omprengan merujuk kepada Uber, Grabcar atau Go-car dan semacamnya.

Saya memiliki sikap dan pandangan berbeda terhadap dua skema tersebut. Tapi kita lihat dulu deh dasar pemikiran ini. Pada dasarnya, aktivitas perusahaan jasa berbasis aplikasi ini adaah sebuah percaloan terstruktur, legal, berbasis teknologi tinggi. Pernah ke terminal bis Senen atau Tirtonadi? Pulogadung?

Kita yang hidup di kota-kota besar Indonesia era 2000an tentu kenal dengan calo bis di terminal, atau timer di pengkolan-pengkolan. Aktivitas calo atau timer adalah mencarikan penumpang untuk ojek atau angkutan kota di wilayah kerja mereka masing-masing. Calon penumpang ditanya akan kemana, kemudian diarahkan ke bis/angkot/ojek. Makelar/timer/calo mendapat imbalan dari awak angkutan umum.

Nah, pengembang aplikasi Gojek – Grabbike – Uber dan kawan-kawan juga melakukan aktivitas yang sama, yaitu mempertemukan calon pengguna angkutan dengan penyedia jasa angkutan.

Perbedaannya, untuk jenis mobil sudah ada layanan angkutan berupa taksi maupun mobil sewa. Sedangkan untuk sepeda motor, sejauh ini saya belum pernah melihat motor sewa yang sekaligus ada pengendaranya.

Menurut saya, aplikasi untuk angkutan sepeda motor adalah terobosan dari kegagalan birokrasi negeri ini untuk mengatur aktivitas ojek. Maka kita akan temui: pengojek tanpa seragam, tarif nego,perlengkapan motor yang seadanya. Sehingga, sekarang pengguna jasa ojek di kota-kota besar di Indonesia sudah terbiasa dengan pengendara ojek berseragam, memakai helm,tidak ugal-ugalan, sopan, dengan tarif transparan. Bagi anda yang pernah naik ojek di Terminal Jombor Jogja beberapa tahun silam tentunya akan mesam-mesem sendiri ya?

Sedangkan untuk mobil, menurut saya perlu pembenahan menyeluruh. Cikal bakal grabcar yang meniru Uber sepertinya dari aktivitas ride sharing atau car pooling. Kalau ndak tau, itu loh omprengan. Benturan dengan layanan taksi tentu saja langsung terasa karena memang dari sananya, omprengan di Indonesia ya rata-rata ilegal alias plat hitam. Menjadi lucu apabila tujuan mulia dari ride sharing/nebeng/ngompreng, yaitu mengurangi kemacetan karena satu mobil dari wilayah urban bisa memuat beberapa orang dengan tujuan yang sama, malah digantikan dengan satu pengusaha yang mengomprengkan lebih dari 5 unit mobil. Maka saya sepakat apabila pengusaha/individu yang mengikuti skema grabcar atau uber seharusnya mengikuti aturan yang berlaku, minimal harus disamakan dengan pengusaha sewa mobil. Mungkin saja bisa dilakukan pembedaan skema antara individu dengan satu mobil saja dengan pengusaha yang memiliki lebih dari dua mobil.

Taksi? Seharusnya pengusaha taksi yang besar-besar itu membeli saham pengembang aplikasi Uber atau Grab Car di Indonesia,atau memperbolehkan pengemudinya ikut dalam skema aplikasi tersebut. Toh terbukti aplikasi pemesanan yang mereka kembangkan sendiri tidak terlalu berguna.

Layanan angkutan baik sepeda motor maupun mobil yang menggunakan aplikasi  memang pada akhirnya menawarkan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jasanya seperti yang secara jernas dimuat dalam komik ini. Pun berlaku secara timbal balik:  penumpang dan pengemudi bisa mempunyai informasi sama tentang identitas masing-masing, tujuan berikut peta nya, serta tarif yang harus dibayarkan.

Screen Shot 2016-08-24 at 7.01.45 PM

Satu lagi, yang bagi saya lebih menarik, adalah data-data luar biasa hasil pencatatan perjalanan pengguna jasa angkutan berbasis aplikasi. Menurut saya data-data yang sudah dikumpulkan oleh pengembang aplikasi tersebut seharusnya ‘dikelola bersama-sama’ antara perusahaan pengembang dengan instansi terkait, bisa Kementerian Informasi ataupun Kementerian Perhubungan, dan juga Pemerintah Daerah. Maka saya sepakat dengan Menteri Kominfo yang telah menyarankan agar Pemda memanfaatkan data dimaksud untuk kepentingan peningkatan layanan kepada masyarakat.

 

ref:

This entry was posted in otjehan sagala matjem. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s