tentang sidang pelanggaran lalu lintas

Semua terjadi begitu cepat. Sebuah bukaan di median jalan  seusai pertigaan selepas Lapangan Tembak Senayan itu ternyata hanya untuk kendaraan dari arah berlawanan. Keputusanku untuk berbalik arah disitu, abai terhadap sebuah rambu yang tertutup rimbunnya dedaunan. Di ujung sana telah menanti seorang kekasih polisi berwajah garang. Singkat kata Pak Polisi menukar Surat Izin Mengemudi di dompetku dengan selembar kertas bukti pelanggaran langsung. Tertera waktu sidang 2 September bertempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). “Bungur“, ujar pak polisi sewaktu kutanya dimana itu.

Screen Shot 2016-09-03 at 6.25.34 AM.png

ikuti panah merah untuk mengakses parkir sepeda motor.

Tanggal 2 September jatuh hari Jumat. Jam 8 pagi aku sudah tiba di lokasi. Di depan sudah banyak tukang parkir dan motor-motor berjajar rapi. Aku memutuskan untuk masuk saja ke gerbang, dan benar saja ada petunjuk parkir motor ke kiri sedangkan parkir mobil ke kanan. Kayak potong bebek angsa ya…

Masuk ke gedung PN Jakpus, aku langsung menangkap kesan bahwa gedung perkantoran ini masih berproses. Minim papan petunjuk di dalam kantor untuk, misalnya tentang informasi bahwa untuk pemegang SIM C harus ke lantai 3. Setiba di lantai 3, ada seorang pemuda duduk di depan ruangan dengan meja penuh kertas berwarna merah dan tumpukan nomor berwarna hijau. Tidak ada keterangan apapun tentangnya, tapi sudah bisa diasumsikan bahwa dialah orangnya. Orang yang bisa memberiku kejelasan nomor antrian.

Kemudian menunggu. Sebuah ruangan dengan kursi berderet dan televisi di dinding yang menayangkan sinetron. Tipikal ruang tunggu di Jakarta. Tak lama kemudian terdengar suara lantang, “nomor satu sampai seratus di sebelaaaah”. Rupanya seorang petugas satpam. Hmm, sudah kuduga. Kantor ini belum menyiapkan PA /public announcer.  Selebihnya sudah tidak menarik lagi. Pukul 9 pagi giliranku tiba, aku harus menerobos kerumunan orang ke sebuah meja. Petugas di meja itu menanyakan namaku, kemudian menyebut nominal yang harus kubayar sebesar Rp 75.000,oo , dan menyerahkan kartu SIM beserta uang kembalian.

Ada sebuah kokot nomor 3 menancap kokoh di kartu SIM ku. Tidak ada kuitansi sebagai bukti bahwa aku sudah membayar denda. Menurut pak Hakim dan pak Jaksa kapan saya akan disidang yang pernah seatap bersama dengan saya di sebuah barak tentara di Ambawara;

Tidak ada pemberian kuitansi pada pembayaran denda tilang, karena besaran denda tilang tersebut sudah disebutkan dalam relaas panggilan sidang yang memuat putusan hakim dan menjadi berkas perkara

Jadi, jangan khawatir ya rekan-rekan dan handai taulan. Uang denda dimaksud akan tetap akan menjadi bagian tak terpisahkan Pendapatan Negara Bukan Pajak. Lunasi Pajaknya, Awasi Penggunaannya !

This entry was posted in otjehan sagala matjem, tricks and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s