tentang menafikan Negara dan Demokrasi

http://kbbi.web.id/nafi

nafi/na·fi/ 1 n penolakan; penampikan; pengingkaran; 2 a sifat negatif; 3 v tidak mau; tidak menurut;
menafikan/me·na·fi·kan/ v menolak; menampik; mengingkari; menyangkal: kita harus menolak atau ~ iktikad yang meragukan

Hiruk pikuk jelang pilkada/pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2017 telah diajukan hingar bingarnya ke kuartal 4 tahun 2016. Berita hoax dan anti-hoax, teriakan kekerasan dan seruan perdamaian silih berganti mengisi ruang bersama yang sampai saat ini masih disepakati bernama Indonesia. Dugaan saya, ada yang sedang berusaha meniadakan ruang bersama ini untuk mewujudkan ruang gema, sebuah panggung monolog: satu arah, satu versi.

Prasangka ini timbul dari gencarnya protes terhadap setiap kebijakan dari pemerintahan sah hasil Pemilu 2014. Bukan kritik, tapi protes. Bedanya, kritik pasti punya solusi. Sedangkan protes, yaaaa seperti namanya, asal ada kebijakan, pasti ditolak. Asal ada pengumuman tentang sebuah pencapaian, pasti disanggah. Dan semacamnya.

Sampai saya berkesimpulan, yang dituju sebenarnya adalah menafikan praktek demokrasi. Demokrasi dalam artian bahwa ada checks and balances antar lembaga tertinggi dan tinggi negara, demokrasi dalam arti ada perlindungan dari tirani mayoritas sekaligus jaminan tidak akan ada diktator mayoritas. Demokrasi yang menjamin pergantian tampuk kepemimpinan di semua lini akan berjalan secara konstitusional dan damai. Tujuannya adalah agar warga negara capek, kezel, dan jengkel terhadap demokrasi sehingga siap untuk alternatif-alternatif lainnya.

Hmmmm, spoookyyyyy….

ps: kisah yang nyaris serupa disinyalir ada di pilpres Amerika Serikat tahun 2016

https://www.wired.com/2016/11/filter-bubble-destroying-democracy/

Kebonharjo

Berita mengenai sebuah kawasan bernama Kebonharjo di harian Suara Merdeka membuatku tersedak pagi ini. Beberapa malam yang lalu, aku dan sigaraning nyawaku berbincang sinambi nglaras, mengenai berbagai hal, salah satunya tentang Semarang. Aku memang menyimpan hasrat untuk bisa mengabdi pada masyarakat Semarang, kota yang membesarkan aku dan keluargaku. Dalam perbincangan itu, aku teringat betapa sulit mengingat-ingat perubahan2 apa saja yang terjadi di Semarang. Terutama Ngesrep dan Tembalang, yang tiap kali aku pulang beberapa waktu lalu, selalu saja memberikan kesan aneh: warung dan toko, ruko dan lesehan di sepanjang gang lima (dulu terkenal dengan sebutan gang Kelurahan) telah membuat tabir yang menghancurkan bayang2 masa kecilku. Toko kelontong dan bengkel milik Papae dan Cik (tu kan, aku lupa nama beliau) telah berubah menjadi minimarket atau warnet atau (aku tak tau apalagi yang ada disitu). Satu demi satu rumah tetanggaku kini berubah menjadi rumah2 kos. Jalan yang kini semarak dengan motor dan mobil. Padahal, kenanganku disini belum berlalu tiga dekade. Continue reading “Kebonharjo”